Hari berjalan seperti biasa ketika aku mengawali aktivitas harian. Mengantar kedua anakku bersekolah lalu berangkat kerja di sebuah jasa laundry milik seorang teman , bersama bungsuku yang berusia 4 tahunan. Hari senin adalah hari yang sibuk. Pekerjaan yang menumpuk di akhir pekan kemarin cukup menguras tenaga. Sinyal lelah yang diberikan oleh tubuh, tak kutanggapi dengan serius. Nyeri di pinggang kuabaikan begitu saja dengan terus melakukan kegiatan mencuci, menjemur, mengeringkan cucian di mesin pengering. Di sela waktu menunggu mesin bekerja, aku melipat rapi pakaian yang sudah keluar dari mesin pengering menyemprotkan parfum serta mengemasnya dengan rapi ke dalam plastik laundry.
Rasa nyeri yang tak berkurang membuatku mengganti kegiatan mengangkat keranjang penuh berisi cucian setengah basah dengan mengambilnya beberapa untuk kujemur. Bolak-balik mengambilnya cukup melelahkan jika dibandingkan dengan mengangkatnya sekaligus. Tapi apa daya, pinggang yang kian nyeri tak bisa diajak berkompromi.
Menjelang sore waktunya menjemput si sulung pulang sekolah, kusempatkan mampir ke apotek untuk membeli obat krim pereda nyeri otot. Sebelumnya kurasakan nyeri yang makin hebat tapi masih bisa kutahan hingga sampai ke sekolah anak keduaku. Nyeri yang terasa di pinggang rupanya mempengaruhi cara jalanku, ya, aku jalan seperti orang pincang. Alhamdulillah kami berempat tiba di rumah dengan selamat.
Segera kurebahkan diri di kasur untuk sejenak beristirahat berharap nyerinya mereda setelahnya. Kuminta si tengah dan si bungsu untuk menginjak-injak area punggung dan pinggang bawahku. Akan tetapi baru sebentar mereka melakukan perintahku, aku sudah tak tahan karena nyerinya makin terasa.
Puncaknya ketika aku melakukan ibadah sholat maghrib, lutut kiriku seolah tak bisa kuluruskan seperti lutut kanan. Jadilah sepanjang waktu sholat itu aku menahan nyeri sambil meringis kesakitan. Kuhubungi suami dan menceritakan kondisiku saat itu. Rencananya aku akan pergi berobat ke dokter malam itu juga. Tapi karena tak yakin akan sanggup mengendarai motor sendirian, akhirnya kuurungkan niat. Untuk sementara aku hanya mengoleskan obat krim yang kuoleskan di bagian yang nyeri. Ternyata nyerinya tak berkurang. Malam itu tidurku gelisah karena berbagai posisi tidak membuatku nyaman bahkan untuk bergerak saja rasanya makin sakit.
Keesokan paginya aku benar-benar merasa bahwa aku tak akan sanggup mengendarai motor lagi untuk mengantar kedua anakku sekolah. Akhirnya aku mencarikan ojek untuk anak keduaku, sementara si sulung mencari tumpangan kepada temannya. Nyeri yang makin hebat membuatku tak sanggup juga sekadar untuk menggoreng telur di dapur. Jadilah hari itu aku memesan makanan secara online.
Tiga hari menahan sakit di rumah akhirnya aku memutuskan untuk meminta suami mengantarku berobat ke dokter spesialis saraf di rumah sakit, saat jadwal oper shiftnya. Jarak rumah sakit yang jauh serta kondisiku yang tak bisa lagi duduk dengan nyaman, akhirnya suami memesan taksi online. Saking sakitnya, bahkan dari depan pintu rumah menuju ke mobil aku seolah tak sanggup berjalan. Suami memapah tubuhku dengan susah payah akhirnya aku berhasil sampai ke mobil. Begitu masuk ke mobil aku langsung berbaring di kursi tengah. Sungguh aku tak sanggup lagi duduk.
Sekitar 50 sampai 60 menit mobil yang kami naiki tiba di lobby rumah sakit. Perjuangan sekali rasanya untuk bisa keluar mobil menuju pintu masuk rumah sakit. Security rumah sakit menawarkan kursi roda namun suami menolak karena aku sudah tak mampu menahan sakit jika duduk. Akhirnya aku meminta suami untuk mengantar ke deretan kursi antrian agar bisa berbaring di sana. Tak lama kemudian Suami datang membawa brankar dan membantuku naik ke atasnya.
Tak peduli lagi bagaimana rasanya menunggu suami melakukannya serangkaian proses administrasi di tempat pendaftaran dan selanjutnya hingga aku tiba di depan ruangan poli saraf. Tak menunggu beberapa lama, akhirnya namaku dipanggil perawat untuk memasuki ruang konsultasi dengan posisi aku tetap di atas brankar. Dokter menanyakan beberapa hal terkait awak mulai sakitku. Lalu memintaku untuk mengangkat kaki kanan dan kiri secara bergantian. Kaki kanan berhasil kuangkat setinggi mungkin. Namun tidak demikian dengan kaki kiriku. Baru kuangkat sekian derajat, aku sudah tak sanggup lagi karena sakit sekali.
Dokter segera meminta agar aku dirawat di rumah sakit saat itu juga. Setelah meminta persetujuan suami, jadilah hari itu aku dirawat.
Bagaimana rasanya menanti dilakukan tindakan ini itu sambil menunggu suami mengurus bermacam-macam administrasi? Akan aku ceritakan di tulisan selanjutnya, ya ..
Komentar
Posting Komentar