Langsung ke konten utama

 

Sekelumit  Cerita di Balik Persiapan PKKMB Maba FKIP UNMUL 2025

 



Menjadi ibu dari tiga anak perempuan dengan sulung yang beranjak dewasa itu nano-nano rasanya. Terlebih belakangan ini berita yang menayangkan keseharian public figure dengan gaya pergaulan bebasnya seliweran di media. Orang tak lagi malu mengumbar aibnya, yang lebih miris lagi tindakan itu seolah mendapat banyak dukungan dari khalayak. Apa yang salah dengan pola pendidikan generasi penerus bangsa ini? Adakah kesalahan itu berawal dari pola asuh keluarga, atau system pendidikan kita ada yang harus dibenahi?

Apapun itu, sebagai ibu pastinya pengen memberikan yang terbaik demi kebaikan anak-anaknya baik sekarang atau di masa yang akan datang. Dimulai dari hal-hal kecil yang bisa dilakukan dari rumah, misalnya memberi perhatian, menyediakan waktu untuk saling berbagi cerita, jalan bareng meski cuma buat jajan cilok, atau diskusi ringan buat bahas isu seleb yang lagi hangat. Karena di waktu-waktu inilah biasanya saat yang tepat untuk menyisipkan nasehat dan masukan.

Seperti tadi malam ketika kami sedang sama-sama sibuk menyiapkan keperluan pagi ini. Di kamar, ia menyiapkan seragam dan atribut lain yang harus dipakai ospek. Aku sibuk menyiapkan bekal dan sarapan sambil sesekali memberi komando. Karena harus berangkat satu jam sebelum subuh, jadi semalam aku nyicil bikin ayam ungkep, bikin nasi aron, motong bahan untuk sambal matah, dan tahu isi ayam. Bangun jam 03.00 ketika  alarm bunyi, tinggal goreng ayam, goreng tahu, ngukus nasi,  dan bikin sambal matah. Urusanku di dapur selesai  berbarengan ketika nakdis selesai bersiap.

Jam 04.05 motor matic keluaran tahun 2013 kami melaju membelah jalanan sepi dengan dingin yang menusuk tulang. Meski maba diminta datang paling lambat pukul 06.45 wita, namun karena tempat tinggal kami jauh dari kampus, maka sebelum subuh tiba harus sudah berangkat dari rumah. Dengan jarak tempuh kurang lebih satu jam, dan dipotong waktu untuk sholat subuh di perjalanan maka paling aman memang berangkat lebih awal. Demi menghindari kemacetan dan padatnya kendaraan di area kampus juga. Bersyukur nakdisku mendapat tumpangan dari temannya yang memiliki mobil. Jadi aku tidak harus mengantarnya di pagi buta dengan jarak sejauh itu dan meninggalkan dua adiknya yang masih tidur di rumah. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan pahala yang banyak. Aamiin

Menjelang jam 12 siang nakdis mengabari kalau dia sudah makan bekal yang dibawa dari rumah beserta snack yang kubawakan. Selain untuk menghemat, tentu alasan lebih sehat dan terjamin yang membuatku bela-belain tidur telat dan bangun lebih awal demi menyiapkan bekal hari ini. Karena menurut penuturan nakdis, nasi kotak yang dibagikan panitia ada yang basi. Jadi jatah miliknya diberikan kepada temannya, karena kasihan jatah temannya basi. Untungnya tadi dia bawa bekal dari rumah, kan?

Kondisi di rumah sedang hujan, tapi alhamdulillah acara si sulung berlangsung di dalam gedung. Melalui pesan yang dikirim melalui whatsapp, ia bercerita bahwa banyak peserta yang tumbang. Mungkin karena banyaknya peserta, sementara kondisi Gedung kurang memadai. Diujung obrolan kami, ia mengabarkan kalau sepatu pantofel yang dikenakannya lepas alasnya. Ia mengirim foto kondisi sepatu yang memprihatinkan itu. Gpp lah, kalau kali ini kalau harus pulang tanpa alas kaki ya, Nak!  Insyaallah jika nanti Allah izinkan ada takdir yang baik untukmu, kakimu yang pernah berjalan tanpa alas kaki sepulang ospek hari ini, akan berjalan di tempat yang memuliakanmu dan meninggikan derajatmu bersama orang-orang baik yang sama-sama melakukan kebaikan.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ini yang Saya Lakukan Untuk Bisa Sembuh dari HNP (Saraf Kejepit)

Jika ada yang bertanya apa rasanya saat menderita saraf kejepit, tentu saya akan menjawab "sakit banget". Bahkan lebih sakit daripada ketika menjalani pemulihan pasca operasi caesar yang pernah saya alami dari ketika melahirkan tiga anak saya. Nyeri hebat disertai kaku otot dari pinggang yang menjalar hingga ke kaki itu benar-benar membuat saya tersiksa. Dirawat kurang lebih selama delapan hari, dan hampir selama delapan hari itu saya hanya bisa berbaring. Aktifitas yang memaksa untuk duduk, berdiri, dan berjalan adalah ketika makan dan pergi ke kamar mandi. Itupun saya lakukan sambil meringis menahan sakit. Bahkan hingga saya diperbolehkan pulang pun, sakitnya masih sangat terasa. Waktu itu saya benar-benar merasa seperti orang jompo , yang segala sesuatunya harus mengandalkan bantuan orang lain. Sebuah kenyataan pahit yang harus saya terima, bahwa saya yang terbiasa melakukan semua sendiri, kali ini harus bergantung kepada orang lain. Saya ibu dari tiga anak dengan rutinita...

Pengalaman Divonis HNP atau saraf kejepit

Hari berjalan seperti biasa ketika aku mengawali aktivitas harian. Mengantar kedua anakku bersekolah lalu berangkat kerja di sebuah jasa laundry milik seorang teman , bersama bungsuku yang berusia 4 tahunan. Hari senin adalah hari yang sibuk. Pekerjaan yang menumpuk di akhir pekan kemarin cukup menguras tenaga. Sinyal lelah yang diberikan oleh tubuh, tak kutanggapi dengan serius. Nyeri di pinggang kuabaikan begitu  saja dengan terus melakukan kegiatan mencuci, menjemur, mengeringkan cucian di mesin pengering. Di sela waktu menunggu mesin bekerja, aku melipat rapi pakaian yang sudah keluar dari mesin pengering menyemprotkan parfum serta mengemasnya dengan rapi ke dalam plastik laundry.  Rasa nyeri yang tak berkurang membuatku mengganti kegiatan mengangkat keranjang penuh berisi cucian setengah basah dengan mengambilnya beberapa untuk kujemur. Bolak-balik mengambilnya cukup melelahkan jika dibandingkan dengan mengangkatnya sekaligus. Tapi apa daya, pinggang yang kian nyeri tak b...