Langsung ke konten utama

Ini yang Saya Lakukan Untuk Bisa Sembuh dari HNP (Saraf Kejepit)






Jika ada yang bertanya apa rasanya saat menderita saraf kejepit, tentu saya akan menjawab "sakit banget". Bahkan lebih sakit daripada ketika menjalani pemulihan pasca operasi caesar yang pernah saya alami dari ketika melahirkan tiga anak saya. Nyeri hebat disertai kaku otot dari pinggang yang menjalar hingga ke kaki itu benar-benar membuat saya tersiksa. Dirawat kurang lebih selama delapan hari, dan hampir selama delapan hari itu saya hanya bisa berbaring. Aktifitas yang memaksa untuk duduk, berdiri, dan berjalan adalah ketika makan dan pergi ke kamar mandi. Itupun saya lakukan sambil meringis menahan sakit. Bahkan hingga saya diperbolehkan pulang pun, sakitnya masih sangat terasa. Waktu itu saya benar-benar merasa seperti orang jompo , yang segala sesuatunya harus mengandalkan bantuan orang lain. Sebuah kenyataan pahit yang harus saya terima, bahwa saya yang terbiasa melakukan semua sendiri, kali ini harus bergantung kepada orang lain.

Saya ibu dari tiga anak dengan rutinitas harian dari pagi hingga menjelang malam, antar jemput anak sekolah, melakukan pekerjaan rumah, bekerja sebagai buruh cuci, dan masih menerima orderan kue. Saya kira dengan waktu 24 jam itu bisa melakukan berbagai peran dengan sempurna tanpa cela. Akan tetapi saya tidak menyadari ketika alarm tanda kelelahan di tubuh saya berbunyi, saya tidak sadari atau saya abaikan. Dan, puncaknya adalah sakit. Sakit yang tidak bisa pulih dalam hitungan hari atau pekan.


 Kejadian itu saya alami empat tahun yang lalu ketika melanjutkan tulisan ini. Alhamdulillah sekarang saya sudah bisa beraktivitas seperti biasa, namun tetap menghindari mengangkat beban yang berat. Adapun yang menyebabkan HNP menghampiri saya, bisa disebabkan oleh banyak kemungkinan. Saya pernah mengira bahwa tiga kali menjalani suntik bius epidural ketika operasi caesar adalah salah satu penyebab HNP. Ternyata tidak. Berdasarkan artikel kesehatan yang saya baca, bius epidural tidak menyebabkan HNP, karena suntikan epidural hanya memberi efek pereda nyeri sementara dan tidak mempengaruhi struktur tulang belakang. Jadi HNP disebabkan oleh pergeseran bantalan tulang belakang yang menekan saraf. Beberapa faktor yang memicu HNP adalah pertambahan usia yang menyebabkan kehilangan elastisitas bantalan tulang, berat badan berlebih/obesitas, memiliki keluarga yang memiliki riwayat HNP, mengangkat beban berat dengan posisi dan tumpuan yang salah, cedera/terjatuh, posisi duduk atau berdiri terlalu lama saat bekerja, aktivitas fisik berlebihan, tubuh terpapar getaran seperti mengemudi, dll. Dari beberapa faktor tersebut, kesalahan posisi dan tumpuan saat mengangkat beban berat itulah yang mungkin menyebabkan saya terkena HNP. Selain itu saya juga pernah mengalami kejadian terjatuh dari ketinggian dalam posisi jatuh terduduk. Ketika saya sakit, banyak teman dan keluarga yang menyarankan untuk pijat atau urut di bagian tulang belakang, tapi saya tolak karena takut. Sehingga saya memilih untuk melanjutkan pengobatan ke dokter dan fisioterapis. Meminum obat dengan teratur, terapi, melakukan gerakan peregangan/stretching seperti yang diajarkan terapis setiap pagi dan malam di rumah, istirahat/bed rest, tidak beraktifitas berlebihan hingga pulih, menghindari posisi duduk jongkok karena sakitnya luar biasa. Dan perlu untuk diketahui, salah satu aktivitas yang amat menyiksa adalah saat harus ke kamar mandi. Sangat disarankan untuk bab/bak menggunakan closet duduk. 

 Ketika diuji dengan sakit, tidak ada yang bisa kita lakukan selain bersabar dan berdoa. Bersabar dengan melakukan berbagai upaya untuk sembuh, berdoa kepada Allah agar rasa sakit yang diderita bisa menghapuskan dosa. Menerima dengan lapang hati, bahwa semua yang terjadi pasti ada hikmah di baliknya. Menerima bahwa tidak semua yang kita mau bisa selalu terlaksana. Menyadari bahwa kita tidak sekuat itu, kita hanya makhluk lemah yang jika Allah berkehendak, kita tak bisa berbuat apa-apa.


 Dan yang tidak boleh dilupakan adalah, memberi hak kepada badan untuk beristirahat. Karena itu bentuk ungkapan terima kasih kita, dengan menjaga amanah yang diberikan oleh-Nya. Jangan dzolim kepada diri sendiri. Tetap jaga kesehatan fisik dan kesehatan mental, khususnya untuk para ibu. Ingat, kita melakoni banyak peran. Jika tidak sehat dan bahagia, bayangkan akan jadi seperti apa rumah kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Divonis HNP atau saraf kejepit

Hari berjalan seperti biasa ketika aku mengawali aktivitas harian. Mengantar kedua anakku bersekolah lalu berangkat kerja di sebuah jasa laundry milik seorang teman , bersama bungsuku yang berusia 4 tahunan. Hari senin adalah hari yang sibuk. Pekerjaan yang menumpuk di akhir pekan kemarin cukup menguras tenaga. Sinyal lelah yang diberikan oleh tubuh, tak kutanggapi dengan serius. Nyeri di pinggang kuabaikan begitu  saja dengan terus melakukan kegiatan mencuci, menjemur, mengeringkan cucian di mesin pengering. Di sela waktu menunggu mesin bekerja, aku melipat rapi pakaian yang sudah keluar dari mesin pengering menyemprotkan parfum serta mengemasnya dengan rapi ke dalam plastik laundry.  Rasa nyeri yang tak berkurang membuatku mengganti kegiatan mengangkat keranjang penuh berisi cucian setengah basah dengan mengambilnya beberapa untuk kujemur. Bolak-balik mengambilnya cukup melelahkan jika dibandingkan dengan mengangkatnya sekaligus. Tapi apa daya, pinggang yang kian nyeri tak b...
  Sekelumit  Cerita di Balik Persiapan PKKMB Maba FKIP UNMUL 2025   Menjadi ibu dari tiga anak perempuan dengan sulung yang beranjak dewasa itu nano-nano rasanya. Terlebih belakangan ini berita yang menayangkan keseharian public figure dengan gaya pergaulan bebasnya seliweran di media. Orang tak lagi malu mengumbar aibnya, yang lebih miris lagi tindakan itu seolah mendapat banyak dukungan dari khalayak. Apa yang salah dengan pola pendidikan generasi penerus bangsa ini? Adakah kesalahan itu berawal dari pola asuh keluarga, atau system pendidikan kita ada yang harus dibenahi? Apapun itu, sebagai ibu pastinya pengen memberikan yang terbaik demi kebaikan anak-anaknya baik sekarang atau di masa yang akan datang. Dimulai dari hal-hal kecil yang bisa dilakukan dari rumah, misalnya memberi perhatian, menyediakan waktu untuk saling berbagi cerita, jalan bareng meski cuma buat jajan cilok, atau diskusi ringan buat bahas isu seleb yang lagi hangat. Karena di waktu-waktu inilah...