Langsung ke konten utama

Ibuk,anak wedok,dan brownies gak jelas

Gak tau bakal jadi apa adonan ini...

Mula-mula si Kalila merengek minta kue yg kemarin ibuk janjikan. Tp karena diluar hujan deras dan jarum regulator dikit lagi mentok di angka paling kiri,jadi ibuk tunda bikin kuenya saat itu. Padahal pas buanget cuacanya untuk ngemil dan gemukin badan. *Baca habis ngemil trus bobok .
Malas buka resep karena bakalan ribet dan bahannya macem-macem biasanya,jadilah ibuk bikin resep ngawur. Rencana sih mau bikin cake yang ada sukade nya. Tapi entah mengapa,baru tau kalau stok telur tinggal 2 butir aja.
Ogah nimbang-nimbang tepung dan gula,jadinya pake cangkir imut peninggalan leluhur yang biasanya dipake buat ngopi ini. Gak kebayang butuh berapa cangkir kalau peminumnya adalah pecandu kopi pemula seperti saya. (Tapi beneran,saya sudah berusaha untuk menahan diri agar tidak kebablasan 😥).
Cemplang-cemplung bahan,nyalakan mixer di speed paling kenceng. Konsentrasi ibuk mendadak terganggu oleh suara pertikaian dua anak perempuan kakak beradik itu. Apakah lagi yang diperebutkan keduanya???
Matikan mixer sebentar. Tenaga yang seharusnya kepake buat megangin mixer ternyata disia-siakan ibuk buat sejenak jadi wasit. Dua-duanya dapat kartu kuning. Plisss jangan lepas kontrol deh buk,no cubitan manja seperti yang sudah-sudah yaaaa.... Biarkan kali ini mereka selesaikan masalah mereka sendiri. Dan mari lanjutkan bikin kuenya.

Dan... OMG !!!! 😱😱
Ini bukan adonan cake. Ini adonan berat bangett.... Seperti dodol 😞.
Kalau dari awal dikasih coklat bubuk dan dcc mah,bisa lanjut ke brownies. Lha ini gak dikasih coklat bubuk dan dcc juga.
Wes lah,bismillah...
Nyalakan kompor,rebus air sedikit buat ngetim dcc sepotong. Semoga aja adonan ini tertolong.

Masih deg-deg an nunggu,sambil nulis status begini biar gak bete. Bentar-bentar diintipin,siapa tau kalau ibuk beruntung bisa dapet shiny crust nya...

Wait yaaaa



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ini yang Saya Lakukan Untuk Bisa Sembuh dari HNP (Saraf Kejepit)

Jika ada yang bertanya apa rasanya saat menderita saraf kejepit, tentu saya akan menjawab "sakit banget". Bahkan lebih sakit daripada ketika menjalani pemulihan pasca operasi caesar yang pernah saya alami dari ketika melahirkan tiga anak saya. Nyeri hebat disertai kaku otot dari pinggang yang menjalar hingga ke kaki itu benar-benar membuat saya tersiksa. Dirawat kurang lebih selama delapan hari, dan hampir selama delapan hari itu saya hanya bisa berbaring. Aktifitas yang memaksa untuk duduk, berdiri, dan berjalan adalah ketika makan dan pergi ke kamar mandi. Itupun saya lakukan sambil meringis menahan sakit. Bahkan hingga saya diperbolehkan pulang pun, sakitnya masih sangat terasa. Waktu itu saya benar-benar merasa seperti orang jompo , yang segala sesuatunya harus mengandalkan bantuan orang lain. Sebuah kenyataan pahit yang harus saya terima, bahwa saya yang terbiasa melakukan semua sendiri, kali ini harus bergantung kepada orang lain. Saya ibu dari tiga anak dengan rutinita...

Pengalaman Divonis HNP atau saraf kejepit

Hari berjalan seperti biasa ketika aku mengawali aktivitas harian. Mengantar kedua anakku bersekolah lalu berangkat kerja di sebuah jasa laundry milik seorang teman , bersama bungsuku yang berusia 4 tahunan. Hari senin adalah hari yang sibuk. Pekerjaan yang menumpuk di akhir pekan kemarin cukup menguras tenaga. Sinyal lelah yang diberikan oleh tubuh, tak kutanggapi dengan serius. Nyeri di pinggang kuabaikan begitu  saja dengan terus melakukan kegiatan mencuci, menjemur, mengeringkan cucian di mesin pengering. Di sela waktu menunggu mesin bekerja, aku melipat rapi pakaian yang sudah keluar dari mesin pengering menyemprotkan parfum serta mengemasnya dengan rapi ke dalam plastik laundry.  Rasa nyeri yang tak berkurang membuatku mengganti kegiatan mengangkat keranjang penuh berisi cucian setengah basah dengan mengambilnya beberapa untuk kujemur. Bolak-balik mengambilnya cukup melelahkan jika dibandingkan dengan mengangkatnya sekaligus. Tapi apa daya, pinggang yang kian nyeri tak b...
  Sekelumit  Cerita di Balik Persiapan PKKMB Maba FKIP UNMUL 2025   Menjadi ibu dari tiga anak perempuan dengan sulung yang beranjak dewasa itu nano-nano rasanya. Terlebih belakangan ini berita yang menayangkan keseharian public figure dengan gaya pergaulan bebasnya seliweran di media. Orang tak lagi malu mengumbar aibnya, yang lebih miris lagi tindakan itu seolah mendapat banyak dukungan dari khalayak. Apa yang salah dengan pola pendidikan generasi penerus bangsa ini? Adakah kesalahan itu berawal dari pola asuh keluarga, atau system pendidikan kita ada yang harus dibenahi? Apapun itu, sebagai ibu pastinya pengen memberikan yang terbaik demi kebaikan anak-anaknya baik sekarang atau di masa yang akan datang. Dimulai dari hal-hal kecil yang bisa dilakukan dari rumah, misalnya memberi perhatian, menyediakan waktu untuk saling berbagi cerita, jalan bareng meski cuma buat jajan cilok, atau diskusi ringan buat bahas isu seleb yang lagi hangat. Karena di waktu-waktu inilah...