Langsung ke konten utama

Cerpen Catatan Masa SMA

#masaSMA

Masa SMA, aku menyebutnya sebagai "zaman" perjuangan. Jarak sejauh 11 km dari rumah ke sekolah kutempuh dengan sepeda angin. Sendirian tanpa teman. Karena teman yang lain bersekolah di SMA yang berbeda denganku. Aku memilih sekolah negeri karena biayanya lebih terjangkau dibandingkan dengan sekolah swasta. Juga karena rata-rata mereka mengendarai sepeda motor kala itu. Teman-temanku berasal dari kalangan ekonomi kelas menengah.

Berangkat jam 06.00 dari rumah dan tiba di sekolah paling lambat jam 07.10. Keluar dari kelas jam 14.00 dan tiba di rumah paling lambat jam 15.30 jika hari tidak sedang turun hujan. Melewati tiga kecamatan dari area persawahan hingga pusat "kota" menjadikan perjalanan pulang pergi ke sekolah tak terlalu menjemukan.

Bukan saja jarak sekolah yang teramat jauh bagiku, kondisi ekonomi keluarga ketika itu sedang di titik terendah. Sepeninggal bapak dua tahun sebelumnya, emak terlilit hutang kepada rentenir hingga rumah kami satu-satunya harus terjual. Cobaan yang berat. Aku nyaris putus sekolah karena tak tega menyaksikan emak setiap hari harus bersembunyi dari kejaran rentenir. Niat untuk bekerja mencari uang sendiri begitu kuat kala itu. Ditambah lagi berkali-kali aku jatuh sakit dan sering tidak masuk sekolah.

Sebulan aku sama sekali tak pergi ke sekolah, hingga wali kelas menyangka aku dinikahkan oleh orang tua. Kutanggapi dengan senyum dingin sembari membulatkan tekad. Aku harus tetap bersekolah, bagaimanapun caranya. Sepulang sekolah aku membantu paman mengemas bolu kering untuk dijual. Dari situ aku mendapatkan uang saku sendiri. Alhamdulillah juga, beberapa guru yang mengetahui kondisiku bersedia menggratiskan beberapa buku pelajaran. 

Memasuki tahun ajaran baru, dengan susah payah aku mengejar banyak pelajaran yang tertinggal. Pelan tapi pasti, nilai-nilai di raport mulai menunjukkan peningkatan. Mengubur dalam-dalam mimpi untuk bisa mengecap bangku perguruan tinggi. Kusederhanakan angan, lulus SMA jika ingin mendapatkan pekerjaan yang sedikit "layak".

Alhamdulillah, tiga tahun yang teramat berat berhasil kulalui. Berbekal ijazah SMA aku ikut keluarga merantau ke luar pulau. Meninggalkan emak dan kampung halaman dengan berat hati. Aku hanya ingin menjadi anak yang berbakti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ini yang Saya Lakukan Untuk Bisa Sembuh dari HNP (Saraf Kejepit)

Jika ada yang bertanya apa rasanya saat menderita saraf kejepit, tentu saya akan menjawab "sakit banget". Bahkan lebih sakit daripada ketika menjalani pemulihan pasca operasi caesar yang pernah saya alami dari ketika melahirkan tiga anak saya. Nyeri hebat disertai kaku otot dari pinggang yang menjalar hingga ke kaki itu benar-benar membuat saya tersiksa. Dirawat kurang lebih selama delapan hari, dan hampir selama delapan hari itu saya hanya bisa berbaring. Aktifitas yang memaksa untuk duduk, berdiri, dan berjalan adalah ketika makan dan pergi ke kamar mandi. Itupun saya lakukan sambil meringis menahan sakit. Bahkan hingga saya diperbolehkan pulang pun, sakitnya masih sangat terasa. Waktu itu saya benar-benar merasa seperti orang jompo , yang segala sesuatunya harus mengandalkan bantuan orang lain. Sebuah kenyataan pahit yang harus saya terima, bahwa saya yang terbiasa melakukan semua sendiri, kali ini harus bergantung kepada orang lain. Saya ibu dari tiga anak dengan rutinita...

Pengalaman Divonis HNP atau saraf kejepit

Hari berjalan seperti biasa ketika aku mengawali aktivitas harian. Mengantar kedua anakku bersekolah lalu berangkat kerja di sebuah jasa laundry milik seorang teman , bersama bungsuku yang berusia 4 tahunan. Hari senin adalah hari yang sibuk. Pekerjaan yang menumpuk di akhir pekan kemarin cukup menguras tenaga. Sinyal lelah yang diberikan oleh tubuh, tak kutanggapi dengan serius. Nyeri di pinggang kuabaikan begitu  saja dengan terus melakukan kegiatan mencuci, menjemur, mengeringkan cucian di mesin pengering. Di sela waktu menunggu mesin bekerja, aku melipat rapi pakaian yang sudah keluar dari mesin pengering menyemprotkan parfum serta mengemasnya dengan rapi ke dalam plastik laundry.  Rasa nyeri yang tak berkurang membuatku mengganti kegiatan mengangkat keranjang penuh berisi cucian setengah basah dengan mengambilnya beberapa untuk kujemur. Bolak-balik mengambilnya cukup melelahkan jika dibandingkan dengan mengangkatnya sekaligus. Tapi apa daya, pinggang yang kian nyeri tak b...
  Sekelumit  Cerita di Balik Persiapan PKKMB Maba FKIP UNMUL 2025   Menjadi ibu dari tiga anak perempuan dengan sulung yang beranjak dewasa itu nano-nano rasanya. Terlebih belakangan ini berita yang menayangkan keseharian public figure dengan gaya pergaulan bebasnya seliweran di media. Orang tak lagi malu mengumbar aibnya, yang lebih miris lagi tindakan itu seolah mendapat banyak dukungan dari khalayak. Apa yang salah dengan pola pendidikan generasi penerus bangsa ini? Adakah kesalahan itu berawal dari pola asuh keluarga, atau system pendidikan kita ada yang harus dibenahi? Apapun itu, sebagai ibu pastinya pengen memberikan yang terbaik demi kebaikan anak-anaknya baik sekarang atau di masa yang akan datang. Dimulai dari hal-hal kecil yang bisa dilakukan dari rumah, misalnya memberi perhatian, menyediakan waktu untuk saling berbagi cerita, jalan bareng meski cuma buat jajan cilok, atau diskusi ringan buat bahas isu seleb yang lagi hangat. Karena di waktu-waktu inilah...