Oleh : Yuni Sajid
Judul : Bukan Jodoh
Isi : 653 kata
Sore hari menjelang senja, Alin merutuk dalam hati saat telinganya mendengar lagu Dealova diputar. Melalui pengeras suara di pusat perbelanjaan tempat ia pameran. Lagu itu mengalun merdu. Lirik lagu itu mengingatkannya tentang kenangan masa lalu. Tentang seseorang yang pernah hadir sesaat namun membawa arti amat mendalam dalam hidupnya.
'Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang
Tanpa dirimu aku merasa hilang
Dan sepi'
Gadis itu hanyut dalam lamunannya untuk beberapa saat. Ketika sepasang mata bulatnya menangkap sosok lelaki yang belasan tahun lalu menghilang, hatinya berdegup kencang. Alin berusaha meyakinkan diri bahwa apa yang ia lihat adalah kekasih masa lalunya.
Suasana mall senja itu lumayan sepi. Timbul niat dalam hati Alin untuk berlari mengejar lelaki itu, tapi diurungkannya. Meskipun dalam hati ingin sekali memastikan siapa yang dilihatnya saat ini, akhirnya gadis itu hanya mematung. Memandang dari kejauhan hingga sosok itu menghilang dari jangkauan netranya.
***
"Kamu terlalu baik untukku, Lin," ucap Faiz sore itu saat datang ke kost Alin.
Di luar hujan turun dengan deras. Suara mereka nyaris tenggelam oleh gemuruh suara hujan.
"Maksud Kakak apa ?" Wajah Alin tampak kebingungan.
"Hubungan ini gak bisa dilanjutkan," jawab Faiz singkat.
"Aku gak ngerti, deh. Bukannya Kakak yang memulai semua ini?" tanya Alin makin bingung.
"Kemarin Kakak bilang lagi sibuk kuliah, dan minta aku untuk tidak hubungi kakak dulu. Ini maksudnya apa sih, Kak?" Suara Alin terdengar bergetar. Kedua matanya mulai mengembun.
"Maafkan Kakak, Lin." Lelaki itu menundukkan kepala lalu berpamitan.
Deru suara motor satria milik Faiz berlalu meninggalkan halaman kost Alin. Ia nekat menerobos guyuran hujan.
Sejak hari itu, Alin sendiri melalui malam-malamnya tanpa telepon dan SMS dari Faiz. Jika sedang rindu sekali Alin menyempatkan untuk berkirim pesan sekedar menanyakan kabar. Meskipun SMS balasan baru ia terima sehari atau dua hari setelahnya, hatinya girang tak terkira.
[Kak, aku boleh nelpon gak? Tapi Kakak gak usah angkat telponnya, aku cuma pengen denger ringtone nya Kakak, kok] . Pesan singkat itu lantas ia kirimkan. Tak lama SMS balasan muncul di layar gawainya. Ia ketik nomor telepon yang dihapalnya di luar kepala.
'Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang memanggil rinduku padamu ...
Kau seperti udara yang ku hela
Kau selalu ada'
***
Mendengar suara adzan dari pengeras suara mall, Alin bergegas menaiki lift menuju masjid yang berada di lantai tiga. Tak butuh waktu lama untuk sampai ke area masjid megah itu.
Begitu keluar dari pintu lift, ia langsung menuju tempat wudhu wanita. Area wudhu yang terpisah antara laki-laki dan perempuan membuat Alin leluasa melepas jilbab kemudian merapikannya lagi. Ketika akan keluar menuju masjid, tanpa sengaja lengannya bersenggolan dengan seorang wanita cantik yang seumuran dengannya. Hidungnya mancung, dan mata bulat di bawah alis yang tebal khas wanita Timur tengah.
"Eh, maaf Mba, gak sengaja," ucap Alin gugup.
"Iya, Mba." Wanita cantik itu berlalu dari hadapan Alin sambil menyunggingkan senyum manis.
Tampak di depan sana seorang pria sedang menunggu, 'mungkin menunggu mba yang tadi bersenggolan denganku' pikir Alin.
"Maaf, lama nunggu ya, Bang." Suara wanita di depan Alin sedang menyapa pria itu.
"Tak apa, Yang," pria itu menjawab.
Alin terpaku ketika melihat wajah dan mendengar suara pria itu. Seakan tak percaya, tapi ia tak mungkin lupa dengan wajah dan suara itu. Sesaat rasanya lemas kedua lututnya, matanya panas hampir menangis. Ingin berlari dan memeluk pria itu. Ingin bertanya banyak hal, ingin bilang rindu.
"Kak Faiz, aku menunggu hari ini. Meminta dalam setiap sujudku untuk bisa bertemu denganmu kembali. Belasan tahun berlalu, satu demi satu pria datang meminangku tak satu pun kuterima. Aku menunggu Kakak datang membawa setangkai mawar. Seperti yang biasa Kakak tinggalkan di kursi teras depan rumahku, sebagai ungkapan rindu . Aku menunggu Kakak menjemputku di ujung gang kemudian berjalan berdua menuju warung bubur kacang ijo kesukaan kita berdua. Aku masih melakukannya sampai sekarang, Kak. Aku menunggu hari ini. Allah menjawab doaku. Alin bukan wanita yang tertakdir berjodoh dengan Kakak," batin Alin menangis pilu.
Salat magrib kali ini Alin menumpahkan semua bebannya di atas sajadah. Memohon ampun kepada Tuhan untuk rasa yang tidak sesuai tempatnya.
Selesai
Samarinda, 05 Desember 2019
Komentar
Posting Komentar