Langsung ke konten utama

Cerpen Hijrah



Judul : Menata Asa di Bilik Bambu
Oleh  : Yuni Sajid

Di depan rumah berdinding bambu itu seorang wanita paruh baya memarkir mobil putihnya. Kaki jenjang beralaskan sepatu kets itu melenggang ke teras rumah tempat di mana seorang pria berbaju lusuh duduk sambil menikmati kopi hitamnya.

"Apa benar ini rumahnya Vita?" tanya wanita itu tanpa basa-basi juga permisi.

"Iya betul, Bu. Saya bapaknya Vita," jawab si pria.

"Mana dia? Saya mau bicara," perintahnya sambil melepas kaca mata hitam yang ia pakai.

Perempuan muda bernama Vita muncul dari dalam rumah saat mendengar namanya disebut. 

"Saya Vita, Bu. Ada apa ya, Ibu mencari saya? Dan Ibu ini siapa?" tanya Vita penasaran.

"Ooh, jadi kamu ya, perempuan kampung yang merebut suami saya?" Ujar wanita itu sambil menunjuk-nunjuk muka Vita.

"Maksud Ibu, apa? Saya tidak mengerti?" tanya Pak Yoto--bapak Vita-- mengernyitkan dahi heran.

"Anak Bapak telah merebut suami saya, dan lihat ... astaga, jangan bilang kalau kau hamil karena suamiku." Wanita itu terkejut melihat perut Vita yang buncit dibalut daster. Matanya menatap tajam ke arah perut Vita. 

"Tidak ... kau pasti hanya menjebaknya, kan? Perempuan tidak tahu malu, kau pasti hanya menjebak suamiku demi mendapatkan hartanya, bukan?" teriaknya kemudian.

Pak Yoto tak bisa mencegah wanita itu untuk terus memaki-maki dirinya dan anaknya. Sampai akhirnya datang seorang laki-laki dengan mobil berwarna putih. Lelaki itu adalah Didit. 

"Mama ngapain di sini? Ayo kita pulang!" ajak lelaki itu sambil menarik tangan istrinya. Sang istri pun tak bisa melawan, ia mengikuti langkah suaminya dengan wajah geram.

***

"Anak tidak tahu diri, beraninya kamu bohong sama Bapak," bentak Pak Yoto dengan tangan mengepal.

Vita hanya menundukkan kepala sambil menyembunyikan tangis.Ia sudah tahu hal seperti ini pasti akan terjadi. Nekad menjalin hubungan dengan pria kaya yang sudah beristri, beginilah resikonya. Saat Om Didit merayu dan mengiming-imingi hp mahal dan uang yang banyak, Vita gelap mata.

Awalnya Vita hanya iseng ingin mengejar harta Om Didit, tapi karena sering diperlakukan bak ratu ... lama-lama ia pun jatuh hati. Lalu, apa pun yang Om Didit minta, Vita tak kuasa menolak. Termasuk saat lelaki berusia empat puluhan itu merenggut kehormatannya.

Puncaknya, saat menyadari dirinya hamil, Vita pun kelabakan. Ia meminta pertanggung jawaban Om Didit. Akhirnya pernikahan berlangsung di rumah orang tua Vita saat usia kehamilannya baru tiga bulan. Kepada orang tua Vita, Om Didit mengaku sebagai duda tanpa anak yang bekerja sebagai mandor sebuah proyek di kota besar tempat Vita merantau. 

Setelah menikah, Om Didit meminta Vita untuk tinggal di kampung saja. Lelaki itu masih menyempatkan diri untuk datang menjenguk Vita dua minggu sekali. Lama-lama bangkai yang tersimpan rapi itu pun tercium juga oleh istrinya. Seolah sudah mencium gelagat buruk sang suami, wanita itu menyelidiki gerak-gerik suaminya. Hingga ditemukanlah alamat tempat tinggal Vita.

***

Di bilik bambu dengan penerangan lampu bercahaya redup malam itu Vita merenung. Bulir-bulir bening luruh membanjiri pipi tirusnya. Sosok bayi laki-laki yang tertidur pulas di hadapannya tengah menggeliatkan tubuh montoknya. Ditepuknya perlahan paha si bayi agar tertidur kembali.

Tiga bulan sudah ia menyandang predikat seorang ibu. Harusnya ia bahagia menyambut kehadiran buah hati bersama bapak dari anak yang lahir dari rahimnya. Namun karena kesalahan fatal yang ia lakukan, kini ia harus menghadapi buah pahit dari perbuatannya itu.  Cemooh dari kerabat dan tetangga tak bisa dihindarinya. Begitu pun kedua orang tuanya yang malang, turut menanggung malu dan derita akibat perbuatan Vita.

Kini Vita dirundung nestapa memikirkan masa depan si buah hati. Terpikir dalam benaknya untuk mendaftar ke agen penyalur tenaga kerja luar negeri seperti kebanyakan tetangganya. Tapi ia tak menemukan jalan keluar tentang siapa yang akan menjaga anaknya.  

Terdengar suara langkah kaki mendekati kamar Vita yang hanya berpintu kain gorden.

"Kamu belum tidur, Vit?" sapa Ibunya.

"Iya, Bu, Vita masih belum mengantuk," jawab Vita setengah berbisik, khawatir bayinya terbangun.

"Bapakmu mau bicara sebentar," tutur Ibunya sambil berbalik arah dan menutup gorden kembali.

Vita lalu mengikuti ibunya ke ruang tengah, Bapaknya sudah menunggu. Lelaki itu duduk di kursi rotan yang anyamannya sebagian besar telah putus karena dimakan usia, sambil menyesap lintingan tembakau.

"Kemarin Pak Darmo menemui Bapak di sawah. Dia menyampaikan niatnya untuk memperistri kamu," kata lelaki itu dengan suara datar.

Vita terkejut mendengarnya. Pak Darmo adalah salah satu orang paling kaya di desa Kenanga. Pria yang berusia sepuluh tahun lebih tua dari bapaknya itu memang terkenal suka daun muda. Setidaknya ia pernah 4 kali menikah dengan perempuan yang harusnya lebih pantas menjadi anaknya.

"Vita belum terpikir untuk menikah, Pak," jawab Vita dengan hati-hati. Ia khawatir jawabannya akan melukai hati bapaknya.

"Lalu mau kamu kasih makan apa anakmu itu? Bagaimana masa depannya nanti? Lagi pula lelaki mana yang masih sudi memperistri perempuan bernasib sepertimu, ha?" Suara Pak Yoto mulai meninggi. Amarahnya terpantik oleh penolakan Vita.

Perempuan muda itu menangis sesenggukan, nyeri yang luar biasa menderanya. Tangis yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah juga. Ia memang pantas disalahkan, semua aib yang menimpa keluarganya kini adalah hasil perbuatannya. 

"Vita sudah banyak dosa, Pak. Vita mau berubah jadi perempuan baik-baik." jawab Vita disela isak tangisnya.

Bukan rahasia lagi kalau Pak Darmo itu adalah tukang judi dan juga penyedia jasa wanita penghibur. Harta kekayaan yang melimpah diantaranya hasil dari bisnis haram itu. Vita bergidik ngeri membayangkan jika dirinya terjebak dalam kubangan dosa yang kian dalam.

***

Suara kokok ayam jago membangunkan Vita dari lelap tidurnya yang hanya dua jam. Udara dingin menembus dinding kamar yang terbuat dari anyaman bambu. Ia rapatkan selimut yang membalut tubuh buah hatinya. Semalam bayi laki-laki itu sedikit rewel, mungkin karena terbawa suasana hati ibunya. 

Sebentar lagi Bapak dan Ibunya akan bersiap ke sawah. Vita membantu menyiapkan sarapan meskipun hanya singkong rebus dan teh tubruk tanpa gula. Hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang, meski tak bisa membantu banyak hal, Vita berusaha untuk tidak menyusahkan kedua orang tuanya.

"Pikirkanlah kembali penawaran Pak Darmo. Kau boleh menolak jika bisa meyakinkan Bapak, bahwa masa depanmu juga anakmu akan terjamin." pesan Pak Yoto sebelum pergi.

Vita hanya menanggapi dengan diam. Otaknya mulai berpikir mencari cara agar bisa membatalkan rencana bapaknya. Segera ia teringat pada Umi Fatimah. Bidan yang menangani persalinannya kala itu. Meskipun tahu riwayat hidup Vita yang buruk, tapi Umi Fatimah tetap memperlakukannya dengan baik. Beliau pula lah yang akhirnya menjadi perantara hijrah bagi Vita.

Bidan senior berhati mulia itu berhasil membuka mata hati Vita. Tutur katanya yang halus saat menyampaikan nasihat membuat ia merasa nyaman saat curhat. Melalui beliau, akhirnya Vita mulai menata diri. Bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat. 

***

Selepas maghrib Vita berpamitan kepada Ibunya untuk menemui Umi Fatimah di tempat praktek. Udara malam yang dingin membuat Vita urung membawa bayinya. Berjanji akan segera pulang setelah urusannya selesai, kepada sang ibu ia minta tolong untuk menjaga bayinya.

Sesampainya di tempat praktek, Umi Fatimah yang saat itu sedang duduk santai di teras bersama suaminya menyambut Vita dengan hangat.

"Waah, ada tamu jauh datang rupanya," sapa wanita berkerudung lebar itu menghampiri Vita.

"Assalamualaikum, Umi," 

"Waalaikumsalam, ayo, masuk sini, Vit." jawab Umi Fatimah sambil merangkul pundak Vita setelah melepaskan jabatan tangannya.

Di ruang tamu itu Vita menyampaikan masalah yang mengganggu pikirannya kepada Umi Fatimah. Kebetulan baru seminggu yang lalu bidan yang juga merangkap sebagai pendakwah itu membuka toko perlengkapan bayi. Vita diperbolehkan bekerja di sana sambil membawa bayinya.

"Terima kasih banyak, Umi. Sudah begitu banyak membantu saya," ucap Vita dengan mata berbinar bahagia. Saking bahagia sampai ia tak sadar matanya kini telah basah.

"Umi belum bisa memberi gaji yang banyak ya, Vit. Tapi insyaa Allah dengannya, kamu tidak lagi menjadi beban orang tuamu," ujar Umi Fatimah sambil menggenggam tangan Vita erat.

"Semoga Allah membalas semua kebaikan Umi." 

Perempuan muda itu menghambur ke pelukan orang yang sudah dianggapnya sebagai ibu sendiri. Dalam hati ia melangitkan  doa-doa kebaikan untuk semua orang yang tetap menyanyanginya hingga saat ini. 

Selesai.

***

Samarinda, 20112019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ini yang Saya Lakukan Untuk Bisa Sembuh dari HNP (Saraf Kejepit)

Jika ada yang bertanya apa rasanya saat menderita saraf kejepit, tentu saya akan menjawab "sakit banget". Bahkan lebih sakit daripada ketika menjalani pemulihan pasca operasi caesar yang pernah saya alami dari ketika melahirkan tiga anak saya. Nyeri hebat disertai kaku otot dari pinggang yang menjalar hingga ke kaki itu benar-benar membuat saya tersiksa. Dirawat kurang lebih selama delapan hari, dan hampir selama delapan hari itu saya hanya bisa berbaring. Aktifitas yang memaksa untuk duduk, berdiri, dan berjalan adalah ketika makan dan pergi ke kamar mandi. Itupun saya lakukan sambil meringis menahan sakit. Bahkan hingga saya diperbolehkan pulang pun, sakitnya masih sangat terasa. Waktu itu saya benar-benar merasa seperti orang jompo , yang segala sesuatunya harus mengandalkan bantuan orang lain. Sebuah kenyataan pahit yang harus saya terima, bahwa saya yang terbiasa melakukan semua sendiri, kali ini harus bergantung kepada orang lain. Saya ibu dari tiga anak dengan rutinita...

Pengalaman Divonis HNP atau saraf kejepit

Hari berjalan seperti biasa ketika aku mengawali aktivitas harian. Mengantar kedua anakku bersekolah lalu berangkat kerja di sebuah jasa laundry milik seorang teman , bersama bungsuku yang berusia 4 tahunan. Hari senin adalah hari yang sibuk. Pekerjaan yang menumpuk di akhir pekan kemarin cukup menguras tenaga. Sinyal lelah yang diberikan oleh tubuh, tak kutanggapi dengan serius. Nyeri di pinggang kuabaikan begitu  saja dengan terus melakukan kegiatan mencuci, menjemur, mengeringkan cucian di mesin pengering. Di sela waktu menunggu mesin bekerja, aku melipat rapi pakaian yang sudah keluar dari mesin pengering menyemprotkan parfum serta mengemasnya dengan rapi ke dalam plastik laundry.  Rasa nyeri yang tak berkurang membuatku mengganti kegiatan mengangkat keranjang penuh berisi cucian setengah basah dengan mengambilnya beberapa untuk kujemur. Bolak-balik mengambilnya cukup melelahkan jika dibandingkan dengan mengangkatnya sekaligus. Tapi apa daya, pinggang yang kian nyeri tak b...
  Sekelumit  Cerita di Balik Persiapan PKKMB Maba FKIP UNMUL 2025   Menjadi ibu dari tiga anak perempuan dengan sulung yang beranjak dewasa itu nano-nano rasanya. Terlebih belakangan ini berita yang menayangkan keseharian public figure dengan gaya pergaulan bebasnya seliweran di media. Orang tak lagi malu mengumbar aibnya, yang lebih miris lagi tindakan itu seolah mendapat banyak dukungan dari khalayak. Apa yang salah dengan pola pendidikan generasi penerus bangsa ini? Adakah kesalahan itu berawal dari pola asuh keluarga, atau system pendidikan kita ada yang harus dibenahi? Apapun itu, sebagai ibu pastinya pengen memberikan yang terbaik demi kebaikan anak-anaknya baik sekarang atau di masa yang akan datang. Dimulai dari hal-hal kecil yang bisa dilakukan dari rumah, misalnya memberi perhatian, menyediakan waktu untuk saling berbagi cerita, jalan bareng meski cuma buat jajan cilok, atau diskusi ringan buat bahas isu seleb yang lagi hangat. Karena di waktu-waktu inilah...