Langsung ke konten utama

Cerpen Ibu Mertua



Ibu Mertua

Sehari sebelum berangkat mudik ke kampung mertua, sengaja aku siapkan beberapa kue olahan tanganku sendiri. Buah tangan istimewa untuk orang yang istimewa pula. 

Bolu pandan dan bolu marmer kupikir pilihan tepat, mengingat ibu mertua tak terlalu suka rasa yang aneh-aneh seperti keju, misalnya. Tekstur bolu yang lembut memudahkan beliau untuk mengunyah, karena beberapa giginya memang sudah tanggal -begitu pikirku-.

Tiba di stasiun, aku mencari andong yang terparkir agak jauh dari pintu keluar. Seorang kakek berusia lanjut nampak menunggu penumpang sambil menyandarkan tubuhnya santai. Nyaris terkantuk-kantuk dengan mata hampir terpejam. Kupanggil pelan si kakek bermaksud agar tidak mengagetkan beliau.

"Ke Sidomulyo ya, Pak," ucapku sambil menyebutkan sebuah desa.

"Oh iya, Bu." Kakek kusir memacu kudanya pelan setelah aku naik dan membawa serta barang-batangku. Sepanjang perjalanan sesekali kami terlibat obrolan ringan.

Mendekati pasar Mukti, aku berpesan kepada si kakek untuk mampir sebentar untuk membeli buah. Bulan ramadhan biasanya banyak penjual blewah, buah kesukaan ibu mertuaku. 

Melewati pasar Mukti, mataku dimanjakan dengan hamparan sawah menghijau di sisi kanan dan kiri jalan. Siang hari yang cerah membuat gunung yang letaknya di kabupaten sebelah tampak jelas. Dulu jalanan ini jadi area favoritku untuk menghabiskan sore hari bersama Mas Danu saat awal menikah. Sepanjang jalan ia banyak bercerita tentang masa-masa sekolahnya dulu. Semua cerita Mas Danu tak pernah membuatku bosan. 

Dua puluh menit berlalu, andong telah tiba di halaman sebuah rumah kayu berhalaman luas. Pohon mangga dan rambutan di sisi kanan kiri rumah membuat asri pemandangan. Tak banyak terlihat dedaunan kering mengotori halaman, pertanda sang empunya rumah rajin membersihkannya. Ibu mertuaku masih sama seperti dulu kiranya. Masih bugar hingga setiap pagi dan sore hari tetap kuat menyapu halaman ini. 

Ku ketuk pintu tiga kali, baru sosok wanita renta itu muncul dari balik pintu. Wajah keriputnya tampak terkejut melihat kedatanganku.

"Assalamualaikum, Ibu. Gimana kabarnya? Sehat ya, Bu?" Kuraih tangannya lalu menciumnya dengan takzim. Saking lamanya kami tidak bertemu, aku menghambur ke pelukan beliau. Namun kuurungkan niat saat tubuh tua itu mundur beberapa langkah.

"Kamu ... " 

"Iya, Bu. Saya Retno. Tak bolehkah saya masuk?" 

"Mau apa kamu ke sini?"

Aku mematung di depan pintu. Tidak menyangka kehadiranku masih mendapat penolakan. Ada begitu banyak luka yang ditorehkan oleh wanita yang melahirkan Mas Danu. Butuh waktu lama untuk melupakan dan memaafkannya, lalu menganggapnya seperti ibu kandungku sendiri. Bahkan lebih. 

Kini luka itu tiba-tiba menganga lagi. Mengeluarkan darah dan menciptakan perih. Perih yang tak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata juga air mata. 

---

Smd, 14102019

Ini cerpen sebenarnya udah dibuat pada tahun 2019 lalu, sekarang direvisi ulang dan posting di blog. Biar gak ilang. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ini yang Saya Lakukan Untuk Bisa Sembuh dari HNP (Saraf Kejepit)

Jika ada yang bertanya apa rasanya saat menderita saraf kejepit, tentu saya akan menjawab "sakit banget". Bahkan lebih sakit daripada ketika menjalani pemulihan pasca operasi caesar yang pernah saya alami dari ketika melahirkan tiga anak saya. Nyeri hebat disertai kaku otot dari pinggang yang menjalar hingga ke kaki itu benar-benar membuat saya tersiksa. Dirawat kurang lebih selama delapan hari, dan hampir selama delapan hari itu saya hanya bisa berbaring. Aktifitas yang memaksa untuk duduk, berdiri, dan berjalan adalah ketika makan dan pergi ke kamar mandi. Itupun saya lakukan sambil meringis menahan sakit. Bahkan hingga saya diperbolehkan pulang pun, sakitnya masih sangat terasa. Waktu itu saya benar-benar merasa seperti orang jompo , yang segala sesuatunya harus mengandalkan bantuan orang lain. Sebuah kenyataan pahit yang harus saya terima, bahwa saya yang terbiasa melakukan semua sendiri, kali ini harus bergantung kepada orang lain. Saya ibu dari tiga anak dengan rutinita...

Pengalaman Divonis HNP atau saraf kejepit

Hari berjalan seperti biasa ketika aku mengawali aktivitas harian. Mengantar kedua anakku bersekolah lalu berangkat kerja di sebuah jasa laundry milik seorang teman , bersama bungsuku yang berusia 4 tahunan. Hari senin adalah hari yang sibuk. Pekerjaan yang menumpuk di akhir pekan kemarin cukup menguras tenaga. Sinyal lelah yang diberikan oleh tubuh, tak kutanggapi dengan serius. Nyeri di pinggang kuabaikan begitu  saja dengan terus melakukan kegiatan mencuci, menjemur, mengeringkan cucian di mesin pengering. Di sela waktu menunggu mesin bekerja, aku melipat rapi pakaian yang sudah keluar dari mesin pengering menyemprotkan parfum serta mengemasnya dengan rapi ke dalam plastik laundry.  Rasa nyeri yang tak berkurang membuatku mengganti kegiatan mengangkat keranjang penuh berisi cucian setengah basah dengan mengambilnya beberapa untuk kujemur. Bolak-balik mengambilnya cukup melelahkan jika dibandingkan dengan mengangkatnya sekaligus. Tapi apa daya, pinggang yang kian nyeri tak b...
  Sekelumit  Cerita di Balik Persiapan PKKMB Maba FKIP UNMUL 2025   Menjadi ibu dari tiga anak perempuan dengan sulung yang beranjak dewasa itu nano-nano rasanya. Terlebih belakangan ini berita yang menayangkan keseharian public figure dengan gaya pergaulan bebasnya seliweran di media. Orang tak lagi malu mengumbar aibnya, yang lebih miris lagi tindakan itu seolah mendapat banyak dukungan dari khalayak. Apa yang salah dengan pola pendidikan generasi penerus bangsa ini? Adakah kesalahan itu berawal dari pola asuh keluarga, atau system pendidikan kita ada yang harus dibenahi? Apapun itu, sebagai ibu pastinya pengen memberikan yang terbaik demi kebaikan anak-anaknya baik sekarang atau di masa yang akan datang. Dimulai dari hal-hal kecil yang bisa dilakukan dari rumah, misalnya memberi perhatian, menyediakan waktu untuk saling berbagi cerita, jalan bareng meski cuma buat jajan cilok, atau diskusi ringan buat bahas isu seleb yang lagi hangat. Karena di waktu-waktu inilah...