Terlambat
Gadis kecil itu tertawa riang menampakkan dua gigi depannya yang telah tanggal. Tangan kecilnya melingkar di leher pria yang ia panggil bapak. Wajah pria berkumis lebat itu pun sama bahagianya.
"Terima kasih, Bapak. Bonekanya cantik." Berulang kali bibirnya mendarat di wajah si pria.
"Sama cantiknya dengan Dita," puji Parmin sambil mencubit hidung mungil gadis ciliknya.
"Besok antar Dita ke tempat ibu, ya. Dita mau kasih lihat boneka baru, biar ibu senang," pinta gadis kecil itu dengan raut wajah memohon.
Bukan sebuah permintaan yang sulit untuk dikabulkan, tapi hati Parmin mendadak terasa nyeri.
"Bapak kenapa diam? Mau ya, Pak?" Dita mengulang lagi permintaannya.
"Iya, nanti Bapak antar," jawab Parmin sedikit tergagap.
***
"Ibu, Dita datang bawa bunga dan boneka baru yang cantik."
Tak menunggu respon dari lawan bicaranya, gadis kecil itu terus saja bercerita. Tentang boneka baru hadiah dari sang bapak. Juga masakan bapak yang belakangan ini mulai terasa enak di lidahnya. Tentang bapaknya yang kini mulai rajin salat lima waktu di Masjid.
Parmin tergugu menyaksikan pemandangan memilukan itu. Sekelebat kenangan bertahun silam melintas dalam ingatannnya.
"Jika anak yang kulahirkan nanti perempuan, akankah Kang Parmin berubah? Tak lagi ringan tangan dan suka main perempuan?" tanya Narsih sambil mengelus perut buncitnya.
"Iya, aku janji, Dek. Aku akan jadi suami dan bapak yang baik untuk anak kita," jawab Parmin mantap.
Tahun demi tahun berlalu. Berdalih susah keluar dari pengaruh buruk lingkungan, Parmin tak juga berubah. Bahkan saat si bayi perempuan mulai kritis bertanya hal yang menarik perhatiannya.
Hingga sebuah peristiwa buruk menimpa keluarga kecil itu. Narsih mendadak sakit parah. Berbagai pengobatan telah ditempuh untuk menyembuhkannya. Namun, ajal menjemputnya saat sang suami belum menepati janji.
Parmin limbung kehilangan separuh jiwanya. Perempuan berhati pualam itu meninggalkan amanah besar yang harus ia rawat seorang diri. Amanah yang akan ia pertanggungjawabkan kepada Sang Maha Pemberi Hidup.
Mahakam, 09122019
Komentar
Posting Komentar