Kedasih si Burung Licik
Nama : Yuni sajid
Di pucuk rumpun bambu yang tinggi, tinggallah seekor burung Kipasan. Burung Kipasan betina sedang mengerami telurnya dengan penuh kasih sayang. Dijaganya dengan baik telur-telur itu di dalam sarang. Ia hanya sesekali meninggalkan sarangnya saat hendak mencari makanan saja.
Sementara itu, seekor burung Kedasih sedang mengintai dari kejauhan. Ia menunggu burung Kipasan pergi meninggalkan sarang. Saat melihat sarang itu ditinggalkan induknya, lalu diam-diam ia menitipkan telurnya di sana.
"Kipasan tidak akan tahu jika aku menitipkan dua telur di sini. Agar tak curiga, sebaiknya dua telur miliknya aku singkirkan dari sarang ini," gumam si Kedasih licik sambil menendang dua butir telur milik Kipasan hingga terjatuh.
"Nah, sudah beres. Kini aku tak perlu khawatir akan keselamatan telurku. Pasti Kipasan akan menjaga dan merawat anak-anakku dengan baik."
Setelah memastikan telur-telurnya aman, Kedasih pun pergi meninggalkan sarang Kipasan dengan tenang. Lalu seperti biasa, ia akan berkelana dari kebun ke kebun yang lainnya. Ia bisa berbuat apa saja sesuka hatinya tanpa harus memikirkan bagaimana merawat anak-anaknya nanti. Sungguh induk burung yang egois.
Kedasih memang terkenal sebagai burung yang jahat dan tidak bertanggung jawab. Sehingga tidak ada yang mau berteman dengannya.
***
Sementara itu, Kipasan masih setia menanti telur-telurnya menetas. Ia tak menaruh rasa curiga terhadap telur-telur yang dieraminya.
Saat yang dinanti pun tiba, satu persatu telur menetas. Anak-anak burung yang lucu kini memenuhi sarang burung induk Kipasan. Riuh suara anak burung yang kelaparan membuat induk Kipasan segera terbang untuk mencari makan.
"Sabar ya, anak-anakku. Ibu akan mencari makanan untuk kalian." pamit induk Kipasan kepada anak-anaknya. Ia lalu melesat jauh ke kebun-kebun petani untuk mencari ulat atau belalang.
Anak-anak burung menanti dengan cemas. Mereka menangis kelaparan. Tangis anak burung Kedasih lah yang terdengar paling nyaring.
"Kenapa kau tak bisa bersabar? Tangisanmu yang nyaring itu akan membuatmu semakin lapar. Tunggulah, ibu pasti akan segera kembali," seekor anak burung sedang menasehati anak burung lainnya.
"Diam kamu, jangan cerewet! Kalau tidak, akan kutendang kau dari sini," ancam anak burung Kedasih yang jahat.
Anak burung kipasan pun takut oleh ancaman Kedasih kecil. Burung kecil itu menangis karena ketakutan. Rupanya tangisan Kipasan membuat Kedasih terganggu. Padahal justru suara tangisannya lebih nyaring dibandingkan Kipasan.
Karena tak sabar, anak burung Kedasih pun melampiaskan kemarahannya dengan mencakar tubuh kecil Kipasan lalu menendangnya hingga terjatuh ke tanah. Anak burung Kipasan yang malang itu pun mati. Kini tinggallah empat ekor anak burung saja di sarang itu.
Tak lama kemudian, induk Kipasan datang membawa banyak makanan. Karena tak sabar, makanan itu menjadi rebutan anak-anaknya.
"Jangan rebutan anak-anak, semua pasti kebagian," lerai induk kapasan.
Rupanya, selain jahat dan licik, burung Kedasih juga mempunyai sifat buruk yang lain. Ia rakus dan tak mau berbagi. Tak heran jika tubuhnya menjadi lebih besar dibandingkan anak burung Kipasan yang hanya mendapat sedikit bagian makanan dari ibunya sendiri.
Induk Kipasan tidak pernah sadar bahwa di antara telur-telur yang dulu dieraminya ada telur yang yang sengaja dititipkan oleh burung Kedasih. Kini anak burung Kedasih semakin besar badannya, bahkan lebih besar daripada induk Kipasan itu sendiri.
Apa yang dilakukan oleh anak Kedasih setelah dewasa? Ternyata ia mewarisi sifat induknya. Menitipkan telur-telurnya secara sembunyi-sembunyi ke sarang burung lain. Karena sifat jahat itulah, Kedasih lebih sering terlihat menyendiri. Tidak pernah berkumpul dengan jenis burung lain.
Samarinda, 30 Oktober 2019
Komentar
Posting Komentar