Langsung ke konten utama

Cerpen Mini Harta Bukan Segalanya

Harta Bukan Segalanya

"Abang sudah pikirkan betul-betul 'kah, keputusan Abang kali ini?" tanyaku sambil memasukkan beberapa baju ke dalam koper.

"Apalagi yang kau ragukan, May. Sedangkan baju-baju abang pun sudah kau siapkan." jawabnya sambil sibuk mengetik layar di gawainya entah untuk siapa.

"Tapi kali ini berbeda, Bang. Paling cepat tiga bulan abang baru bisa pulang, menemui istri dan anak-anak," 

"Sanggupkah, Abang, membeli kebersamaan keluarga kecil ini dengan gaji belasan juta yang abang kejar itu?" kuungkapkan isi hatiku bermaksud mengiba.

"Anak-anak butuh masa depan yang cerah, May. Kita butuh rumah yang lebih layak, kendaraan yang bisa membawa kita pulang kampung lebih nyaman. Sudahlah, kau jaga baik-baik anak kita di rumah dan jangan lupa selalu doakan Abang, ya," jawabnya mantap.

Aku menjawab dengan anggukan, dengan air menggenang di pelupuk mata, dengan nyeri yang tak terperi. Kucium penuh takzim tangan suamiku, diciumnya keningku mesra. Kulepaskan suamiku berlayar ke negeri nun jauh di sana.

***
Tahun-tahun berlalu. 

Dalam kepulangannya yang hanya sesekali, aku tak pernah tega menambah beban pikirannya. Semua masalah yang harusnya kubagi, kusimpan sendiri. Menyimpan rindu dan kecewa secara bersamaan, membuatku menjadi sosok pemarah. Tak bisa mentolerir kesalahan kecil yang anak-anakku lakukan. 

Anak-anakku tak hanya butuh uang yang selalu ada saat mereka menginginkan sesuatu. Mereka butuh sosok ayah yang melindungi, butuh sosok ibu yang ceria dan bahagia. Aku tak lagi mampu menjadi sosok yang mereka cari saat bersedih. Tak lagi menjadi orang yang pertama kali mereka peluk saat takut dan bahagia. 

Harta berlimpah ternyata tak mampu menggantikan kekosongan jiwa mereka. Jika kehadiranmu sebagai orang tua tak memberi makna apa-apa. Masa depan cerah macam apa yang terlahir dari jiwa yang sepi, tak percaya diri dan tak punya simpati.

***

Tugas saya done ya mba Veradina Rahmawati.
Monggo dikrisan. Jangan pedes-pedes ya mba, perut saya tak kuat. 😂😘

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ini yang Saya Lakukan Untuk Bisa Sembuh dari HNP (Saraf Kejepit)

Jika ada yang bertanya apa rasanya saat menderita saraf kejepit, tentu saya akan menjawab "sakit banget". Bahkan lebih sakit daripada ketika menjalani pemulihan pasca operasi caesar yang pernah saya alami dari ketika melahirkan tiga anak saya. Nyeri hebat disertai kaku otot dari pinggang yang menjalar hingga ke kaki itu benar-benar membuat saya tersiksa. Dirawat kurang lebih selama delapan hari, dan hampir selama delapan hari itu saya hanya bisa berbaring. Aktifitas yang memaksa untuk duduk, berdiri, dan berjalan adalah ketika makan dan pergi ke kamar mandi. Itupun saya lakukan sambil meringis menahan sakit. Bahkan hingga saya diperbolehkan pulang pun, sakitnya masih sangat terasa. Waktu itu saya benar-benar merasa seperti orang jompo , yang segala sesuatunya harus mengandalkan bantuan orang lain. Sebuah kenyataan pahit yang harus saya terima, bahwa saya yang terbiasa melakukan semua sendiri, kali ini harus bergantung kepada orang lain. Saya ibu dari tiga anak dengan rutinita...

Pengalaman Divonis HNP atau saraf kejepit

Hari berjalan seperti biasa ketika aku mengawali aktivitas harian. Mengantar kedua anakku bersekolah lalu berangkat kerja di sebuah jasa laundry milik seorang teman , bersama bungsuku yang berusia 4 tahunan. Hari senin adalah hari yang sibuk. Pekerjaan yang menumpuk di akhir pekan kemarin cukup menguras tenaga. Sinyal lelah yang diberikan oleh tubuh, tak kutanggapi dengan serius. Nyeri di pinggang kuabaikan begitu  saja dengan terus melakukan kegiatan mencuci, menjemur, mengeringkan cucian di mesin pengering. Di sela waktu menunggu mesin bekerja, aku melipat rapi pakaian yang sudah keluar dari mesin pengering menyemprotkan parfum serta mengemasnya dengan rapi ke dalam plastik laundry.  Rasa nyeri yang tak berkurang membuatku mengganti kegiatan mengangkat keranjang penuh berisi cucian setengah basah dengan mengambilnya beberapa untuk kujemur. Bolak-balik mengambilnya cukup melelahkan jika dibandingkan dengan mengangkatnya sekaligus. Tapi apa daya, pinggang yang kian nyeri tak b...
  Sekelumit  Cerita di Balik Persiapan PKKMB Maba FKIP UNMUL 2025   Menjadi ibu dari tiga anak perempuan dengan sulung yang beranjak dewasa itu nano-nano rasanya. Terlebih belakangan ini berita yang menayangkan keseharian public figure dengan gaya pergaulan bebasnya seliweran di media. Orang tak lagi malu mengumbar aibnya, yang lebih miris lagi tindakan itu seolah mendapat banyak dukungan dari khalayak. Apa yang salah dengan pola pendidikan generasi penerus bangsa ini? Adakah kesalahan itu berawal dari pola asuh keluarga, atau system pendidikan kita ada yang harus dibenahi? Apapun itu, sebagai ibu pastinya pengen memberikan yang terbaik demi kebaikan anak-anaknya baik sekarang atau di masa yang akan datang. Dimulai dari hal-hal kecil yang bisa dilakukan dari rumah, misalnya memberi perhatian, menyediakan waktu untuk saling berbagi cerita, jalan bareng meski cuma buat jajan cilok, atau diskusi ringan buat bahas isu seleb yang lagi hangat. Karena di waktu-waktu inilah...