Langsung ke konten utama

Cerpen Mini Tentang Cita-cita

#cita-cita

"Hanya orang kaya yang boleh punya cita-cita ya, Win? Orang sepertiku hanya punya mimpi," ucap Nala kepada sahabatnya.

"Kamu tak boleh begitu, La. Cita-cita itu hak semua orang. Semua orang yang punya tujuan hidup dan punya semangat hidup tak boleh berkata seperti itu," kata Winda memberi semangat.

"Lihatlah aku, Win. Entah bagaimana kalau setelah lulus ini kita berbeda sekolah," jawab Nala sambil menunduk lesu.

Nala sadar, selama ini jika bukan karena Winda, mungkin dia sudah putus sekolah. Buku-buku pelajaran semua dipinjamkan oleh Winda. Begitupun sepatu dan seragam. Winda punya banyak, dan sering dibelikan yang baru, sementara yang lama masih layak pakai.

Pergi dan pulang sekolah, dua sahabat ini selalu bersama. Naik sepeda milik Winda. Bergantian membonceng. Sungguh manis persahabatan mereka, pantas jika Nala begitu sedih karena sebentar lagi mereka akan lulus. Dan besar kemungkinan mereka tak lagi satu sekolah. Orangtua Winda tentu memilihkan sekolah terbaik untuknya. Sementara Nala, tetap bisa melanjutkan sekolahpun ia sudah sangat bersyukur.

***

Siang itu selepas pengumuman kelulusan, dua sahabat karib itu menghabiskan waktu bersama di kebun dekat rumah tempat mereka biasa belajar bersama.

"La, aku sedih tapi harus tetap kukatakan padamu tentang hal ini. Ayah akan mengirimku ke rumah keluarga di kota. Agar lebih dekat dengan sekolah yang sesuai dengan cita-citaku. Artinya kita akan jarang bertemu lagi."

Kata-kata Winda begitu membuat hati Nala sedih. Sesampai di rumah wajahnya nampak murung. Diceritakannya perihal Winda kepada ibunya.

"Bersabarlah, Nak. Akan selalu ada jalan bagimu untuk meraih cita-cita, selagi kau mau berusaha dan berdoa dengan baik dan benar.  Tak perlu kau pusingkan dari arah mana pertolongan itu akan datang. Cukup pantaskan dirimu saja," kata ibunya menghibur.

Samarinda, 13022019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ini yang Saya Lakukan Untuk Bisa Sembuh dari HNP (Saraf Kejepit)

Jika ada yang bertanya apa rasanya saat menderita saraf kejepit, tentu saya akan menjawab "sakit banget". Bahkan lebih sakit daripada ketika menjalani pemulihan pasca operasi caesar yang pernah saya alami dari ketika melahirkan tiga anak saya. Nyeri hebat disertai kaku otot dari pinggang yang menjalar hingga ke kaki itu benar-benar membuat saya tersiksa. Dirawat kurang lebih selama delapan hari, dan hampir selama delapan hari itu saya hanya bisa berbaring. Aktifitas yang memaksa untuk duduk, berdiri, dan berjalan adalah ketika makan dan pergi ke kamar mandi. Itupun saya lakukan sambil meringis menahan sakit. Bahkan hingga saya diperbolehkan pulang pun, sakitnya masih sangat terasa. Waktu itu saya benar-benar merasa seperti orang jompo , yang segala sesuatunya harus mengandalkan bantuan orang lain. Sebuah kenyataan pahit yang harus saya terima, bahwa saya yang terbiasa melakukan semua sendiri, kali ini harus bergantung kepada orang lain. Saya ibu dari tiga anak dengan rutinita...

Pengalaman Divonis HNP atau saraf kejepit

Hari berjalan seperti biasa ketika aku mengawali aktivitas harian. Mengantar kedua anakku bersekolah lalu berangkat kerja di sebuah jasa laundry milik seorang teman , bersama bungsuku yang berusia 4 tahunan. Hari senin adalah hari yang sibuk. Pekerjaan yang menumpuk di akhir pekan kemarin cukup menguras tenaga. Sinyal lelah yang diberikan oleh tubuh, tak kutanggapi dengan serius. Nyeri di pinggang kuabaikan begitu  saja dengan terus melakukan kegiatan mencuci, menjemur, mengeringkan cucian di mesin pengering. Di sela waktu menunggu mesin bekerja, aku melipat rapi pakaian yang sudah keluar dari mesin pengering menyemprotkan parfum serta mengemasnya dengan rapi ke dalam plastik laundry.  Rasa nyeri yang tak berkurang membuatku mengganti kegiatan mengangkat keranjang penuh berisi cucian setengah basah dengan mengambilnya beberapa untuk kujemur. Bolak-balik mengambilnya cukup melelahkan jika dibandingkan dengan mengangkatnya sekaligus. Tapi apa daya, pinggang yang kian nyeri tak b...
  Sekelumit  Cerita di Balik Persiapan PKKMB Maba FKIP UNMUL 2025   Menjadi ibu dari tiga anak perempuan dengan sulung yang beranjak dewasa itu nano-nano rasanya. Terlebih belakangan ini berita yang menayangkan keseharian public figure dengan gaya pergaulan bebasnya seliweran di media. Orang tak lagi malu mengumbar aibnya, yang lebih miris lagi tindakan itu seolah mendapat banyak dukungan dari khalayak. Apa yang salah dengan pola pendidikan generasi penerus bangsa ini? Adakah kesalahan itu berawal dari pola asuh keluarga, atau system pendidikan kita ada yang harus dibenahi? Apapun itu, sebagai ibu pastinya pengen memberikan yang terbaik demi kebaikan anak-anaknya baik sekarang atau di masa yang akan datang. Dimulai dari hal-hal kecil yang bisa dilakukan dari rumah, misalnya memberi perhatian, menyediakan waktu untuk saling berbagi cerita, jalan bareng meski cuma buat jajan cilok, atau diskusi ringan buat bahas isu seleb yang lagi hangat. Karena di waktu-waktu inilah...