#Euforia
Wijaya
Kabar kelulusan Wijaya disambut suka cita oleh ibunya, Yu Lasmi. Perempuan desa berusia senja yang menjalani separuh usianya dengan menjanda. Semenjak pria yang memberinya dua anak itu berkhianat, ia memutuskan untuk hidup sendiri. Merawat dan membesarkan Wijaya dan Yani dengan tangannya sendiri.
Semua tetangga kanan-kiri, teman di kelompok yasinan dan arisan ia beritahu. Wijaya sekarang jadi orang berpendidikan, punya titel, bergelar dan berseragam. Anak lelaki semata wayang kini sudah mengangkat derajat ibunya. Tak akan ada lagi tatapan mata meremehkan saat ia pergi rewang ke tetangga yang sedang punya hajatan. Dulunya ia kerap dinilai hanya numpang cari makan enak. Pulang rewang membawa berbungkus-bungkus makanan untuk Wijaya dan Yani kecil.
Besar harapan Yu Lasmi, setelah ini Wijaya akan bekerja dan berpenghasilan tinggi. Punya rumah mewah seperti milik pak lurah. Beli mobil bagus seperti kepunyaan juragan Agus. Ia tak lagi malu ikut yasinan ibu-ibu karena hanya memakai baju dan tas lusuh itu-itu melulu. Tentu karena Wijaya akan membelikannya baju dan tas baru.
Yu Lasmi kini berani berjalan dengan kepala tegak, ketika berpapasan dengan juragan Gito yang dulu pernah menolak lamaran Wijaya untuk anak gadisnya, Kasih. Karena Kasih tak diijinkan menikah dengan pria miskin seperti Wijaya.
Nama yang ia berikan kepada anak lelakinya berbalut doa dan harapan, yang kini jadi kenyataan.
Samarinda, 05032019
Komentar
Posting Komentar