Langsung ke konten utama

Cerpen Pertolongan Allah Itu Dekat



Judul : Prasangka Baik Kepada Allah
Oleh   : Yuni Sajid

Ke mana saja mereka saat kami terpuruk begini. Aku tak habis pikir, jangankan membantu meringankan beban, menanyakan kabar pun tak pernah. Padahal kami lah yang biasanya pertama kali mereka cari saat dalam kesulitan.

Aku kecewa luar biasa. Berharap bisa saling membantu, bergantian mengulurkan tangan saat salah satu dalam kesulitan. Nyatanya tidak. Kami sendiri dan ditinggalkan. Sesak yang kurasakan.

Tak pernah terduga rupanya Allah turunkan bantuan-NYA dari arah lain. Bukan dari orang-orang yang pernah sangat kuharapkan akan terus membersamai.

***

Prasangka Baik Kepada Allah 

Hampir setahun suamiku kehilangan pekerjaan. Tabungan yang jumlahnya tak seberapa itu pun nyaris habis untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Hasil kerjaku memang sedikit bisa untuk makan sehari-hari.  Akan tetapi bagaimana dengan biaya sekolah anak-anakku, sewa rumah yang harus dibayarkan tiap bulan, belum lagi persiapan melahirkan anak ketiga nanti.

Berbagai prasangka buruk terhadap ujian ini datang dan pergi silih berganti menghampiri pikiran. Menyalahkan keadaan, meratapi diri dan enggan membuka hati.

Di tengah kekalutan hidup, orang-orang baik yang Allah hadirkan di sekelilingku selalu memberikan semangat. Mengajarkan keikhlasan dengan cara mereka sendiri. Termasuk mengingatkan untuk tak henti berbuat baik dan terus berbagi kebaikan. Sekecil apa pun itu, asalkan diniatkan untuk mencari ridho-Nya.

Sejak beberapa bulan terakhir aku punya amanah mengajar ngaji ibu-ibu di kampung sebelah. Jalanan yang becek dan gelap tak menyurutkan niat untuk pergi. Semangat mereka selalu menjadi daya tarik tersendiri bagiku. Semua kulakukan suka rela, alias gratis. 

Sore itu sepulang kerja, seperti biasa aku segera menyiapkan makan malam untuk kami. Betapa sedihnya karena rupanya tak ada beras yang tersisa untuk dimasak. Sedangkan uang di dompet hanya cukup untuk beli pulsa listrik yang juga habis. Ingin menangis rasanya, dada terasa amat sesak. Ya Allah, hanya untuk makan saja kami sedemikian sulit. Bagaimana dengan biaya persiapan persalinan nanti, batin ini mengeluh.

Kebetulan malam itu adalah jadwal mengajar ngaji. Aku berangkat dengan menahan perut yang lapar. Kedatanganku sudah dinanti rupanya, ibu-ibu menyambut dengan senyum hangat dan mencium kedua pipiku bergantian sambil salaman. 

Waktu satu jam terasa begitu lama kali ini. Semoga perutku tak mengeluarkan suara-suara ajaib. Bisa malu kalau sampai terdengar oleh ibu-ibu di depanku. Tiba-tiba dari arah dapur tampak tuan rumah membawa beberapa mangkuk berisi soto ayam dalam nampan ketika waktu belajar akan habis. Bu Ana mengangsurkan semangkuk ke depanku.

"Bu, silahkan dimakan. Tadi siang ada acara di rumah, ada lebihan sedikit, " ucap Bu Ana ramah.

"Monggo ibu-ibu, dimakan sotonya."

Dengan lahap kuhabiskan semangkuk soto yang nikmat. Masyaa Allah, makan di saat lapar begini, luar biasa nikmatnya. Hampir menitik air mata karena haru. 

Usai mengucapkan terima kasih, segera berpamitan untuk pulang. Sampai di halaman rumah Bu Ana, aku dikejutkan lagi oleh beberapa kantong plastik yang entah berisi apa, sudah terkait di bawah stang sepeda motor. Bu Ana dan kawan-kawan yang mengekor di belakangku spontan berkata,

"Bu, ini ada sedikit beras hasil panen kami. Maaf cuma sedikit, tolong diterima, ya," 

Aku menghambur di pelukan beliau untuk beberapa saat. Air mata tak dapat kutahan, berkali-kali kuucapkan terima kasih. Mereka paham tentang kondisi keluarga kami saat itu.

"Terima kasih banyak, ibu-ibu. Semoga Allah membalas dengan yang lebih banyak dan lebih baik. Semoga diberikan rizki yang banyak dan berkah ya, Bu," setengah terisak kusampaikan rasa terima kasih. Kemudian berpamitan pulang setelahnya.

Aku pulang dengan perasaan campur aduk. Bahagia, terharu dan malu. Malu kepada Allah karena teramat sering berburuk sangka. Semoga Allah mengampuni dosaku.

***

Saat Ramadhan hadir, kehamilanku memasuki usia enam bulan. Alhamdulillah tak ada kendala berarti saat memutuskan tetap berpuasa meskipun secara syariat wanita hamil diperbolehkan tidak berpuasa jika dikhawatirkan membahayakan kesehatan ibu maupun bayinya. Atas ijin Allah, aku sehat dan kuat menjalani aktivitas yang cukup berat. Pagi hingga sore bekerja, sesampainya di rumah kadang hingga larut malam membuat pesanan kue lebaran. Belum lagi berkarton-karton pesanan minuman kemasan yang harus kuambil dengan sepeda motor yang jaraknya sekitar satu jam perjalanan dari rumah. Meskipun banyak yang mengkhawatirkan kondisi kesehatanku, aku berhasil meyakinkan mereka bahwa semua akan baik-baik saja. 

Menjelang akhir Ramadhan, khususnya sepuluh hari terakhir sengaja aku mengurangi aktivitas. Agar lebih fokus untuk beribadah, dan target mengkhatamkan Al Quran tercapai. Aku juga ikut i'tikaf di masjid bersama teman dan guru ngaji di malam-malam ganjil.

Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memperbaiki hubungan dengan Allah, terlebih di tengah ujian hidup yang sedang kualami. Aku selalu percaya bahwa di setiap kesulitan, pasti ada kemudahan setelahnya. Firman Allah dalam surat Al Insyirah menjadi penyemangat juga pelecut untuk terus bersabar. 

***
Hari mendekati persalinan kian dekat. Perlengkapan bayi sama sekali belum terbeli. Semua baju bayi milik anak kedua sudah lama kuberikan untuk tetangga. Sama sekali tak terpikir untuk menyisakan meski cuma beberapa lembar. Karena kupikir dua anak saja sudah cukup, tak ada keinginan untuk menambah momongan lagi saat itu. Misalnya pun nanti akan punya anak lagi, pasti ada saja rizki untuk membeli yang baru, begitu pikirku.

Seorang sahabat yang memiliki anak berusia hampir setahun coba kuhubungi. Bermaksud menanyakan baju-baju bayi yang masih bisa dipakai . Kalau saja sudah diberikan kepada orang lain. Alhamdulillah, rizki bagi calon bayiku. Semuanya masih lengkap dan masih bagus kondisinya. Satu tas besar perlengkapan bayi kubawa pulang dengan hati riang.

Keesokan harinya saat tiba di tempat kerja, seorang rekan berkata bahwa ada titipan dari Bu Salma untukku. Ketika kulihat, ternyata perlengkapan bayi juga. Beberapa tampak masih baru, belum pernah dipakai. Lagi-lagi hatiku dipenuhi rasa syukur.

Hari yang dinanti pun tiba, dokter menyarankan untuk melahirkan dengan proses operasi untuk yang ketiga kalinya. Kekhawatiranku akan besarnya biaya operasi terjawab oleh uluran tangan seorang sahabat. Beliau yang membantu dan mengarahkan agar biaya operasi bisa gratis tanpa biaya. 

Menunggu antrean masuk kamar operasi yang terhitung lama membuatku bosan. Dua orang pasien dengan kondisi gawat darurat lebih diprioritaskan. Sembari menunggu giliran, kupergunakan waktu untuk mengulang hapalan beberapa surat pendek. Semoga dengan cara ini Allah berkenan memberikan kemudahan dan kekuatan pada proses operasi nanti.

Jam 23.00 seorang suster mengabari bahwa setelah ini giliranku masuk kamar operasi. Aku diminta bersiap-siap. Sambil merapalkan doa-doa kuhalau rasa khawatir dan takut. Meskipun bukan yang pertama kalinya, tetap saja rasa takut itu muncul. Bagaimana seandainya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan atau di luar rencana.

Tiga puluh menit berlalu, seorang tim medis datang membawa bayi mungil nan cantik ke hadapanku. Kuucapkan salam kepadanya, lalu mengusap lembut kedua pipinya yang tampak gembul kemerah-merahan. Masyaa Allah, segala rasa sakit terobati seketika melihat matanya nan jernih. Bayi mungil itu hanya mengerjap-ngerjapkan matanya saat kami mencoba inisiasi dini. Setelah dirasa cukup bayiku dibawa keluar ruang operasi untuk dibersihkan. 

Begitu proses operasi dan masa observasi usai, aku segera dibawa ke ruang perawatan. Badan masih terasa lemah. Jika dua kali pengalaman sebelumya 24 jam pasca operasi aku baru mencoba turun dari kasur untuk belajar berjalan, tidak untuk kali ini. Maklum fasilitas gratis yang kupakai mengharuskan untuk segera pulih, agar waktu tiga hari cukup memastikan bahwa aku sudah sehat dan harus pulang meninggalkan rumah sakit.

Dalam hitungan kurang dari 24 jam, seorang suster meminta untuk segera belajar berjalan dan melepas selang kateter. Aku terkejut dan sempat sedih dibuatnya. Bagaimana tidak, baru tadi malam dioperasi, dan jam 15.00 aku sudah harus belajar berjalan. Air mata nelangsa tak tertahan. Berkali-kali kuseka air mata yang terus menetes di hadapan suster yang sibuk melepas selang kateter. Tubuhku masih lemah, jangankan untuk berjalan, duduk pun masih perlu bantuan orang lain.

Bismillah, aku memohon kemudahan dan kekuatan kepada Allah. Melawan rasa takut dan nyeri di bekas sayatan operasi, mencoba berjalan dengan bantuan suamiku ke kamar mandi. Setengah membungkuk agar mengurangi rasa sakit di perut. Mengingat pengalaman pasca melahirkan kedua anak sebelumnya hampir pingsan di kamar mandi, kuminta suami untuk mendampingi sampai aku benar-benar kuat sendiri.

Keesokan harinya aku sudah pulang ke rumah. Kali ini meskipun tanpa obat-obatan yang mahal, nyatanya aku cepat pulih. Sesampainya di rumah bayi kumandikan sendiri. Semua atas ijin Allah. Begitu juga bayiku yang anteng dan tidak rewel. Bukankah itu juga pertolongan dari Allah. 

Benar bahwa tak ada sedikitpun kebaikan yang Allah tak balas. Bukan kepada sesama makhluk kita berharap balasan. Melainkan hanya kepada-Nya. Jalan terbukanya rizki kerap kali tak pernah terlintas dalam pikiran kita. Itulah mengapa kita patut untuk terus berprasangka baik terhadap takdir Allah.
- [ ]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ini yang Saya Lakukan Untuk Bisa Sembuh dari HNP (Saraf Kejepit)

Jika ada yang bertanya apa rasanya saat menderita saraf kejepit, tentu saya akan menjawab "sakit banget". Bahkan lebih sakit daripada ketika menjalani pemulihan pasca operasi caesar yang pernah saya alami dari ketika melahirkan tiga anak saya. Nyeri hebat disertai kaku otot dari pinggang yang menjalar hingga ke kaki itu benar-benar membuat saya tersiksa. Dirawat kurang lebih selama delapan hari, dan hampir selama delapan hari itu saya hanya bisa berbaring. Aktifitas yang memaksa untuk duduk, berdiri, dan berjalan adalah ketika makan dan pergi ke kamar mandi. Itupun saya lakukan sambil meringis menahan sakit. Bahkan hingga saya diperbolehkan pulang pun, sakitnya masih sangat terasa. Waktu itu saya benar-benar merasa seperti orang jompo , yang segala sesuatunya harus mengandalkan bantuan orang lain. Sebuah kenyataan pahit yang harus saya terima, bahwa saya yang terbiasa melakukan semua sendiri, kali ini harus bergantung kepada orang lain. Saya ibu dari tiga anak dengan rutinita...

Pengalaman Divonis HNP atau saraf kejepit

Hari berjalan seperti biasa ketika aku mengawali aktivitas harian. Mengantar kedua anakku bersekolah lalu berangkat kerja di sebuah jasa laundry milik seorang teman , bersama bungsuku yang berusia 4 tahunan. Hari senin adalah hari yang sibuk. Pekerjaan yang menumpuk di akhir pekan kemarin cukup menguras tenaga. Sinyal lelah yang diberikan oleh tubuh, tak kutanggapi dengan serius. Nyeri di pinggang kuabaikan begitu  saja dengan terus melakukan kegiatan mencuci, menjemur, mengeringkan cucian di mesin pengering. Di sela waktu menunggu mesin bekerja, aku melipat rapi pakaian yang sudah keluar dari mesin pengering menyemprotkan parfum serta mengemasnya dengan rapi ke dalam plastik laundry.  Rasa nyeri yang tak berkurang membuatku mengganti kegiatan mengangkat keranjang penuh berisi cucian setengah basah dengan mengambilnya beberapa untuk kujemur. Bolak-balik mengambilnya cukup melelahkan jika dibandingkan dengan mengangkatnya sekaligus. Tapi apa daya, pinggang yang kian nyeri tak b...
  Sekelumit  Cerita di Balik Persiapan PKKMB Maba FKIP UNMUL 2025   Menjadi ibu dari tiga anak perempuan dengan sulung yang beranjak dewasa itu nano-nano rasanya. Terlebih belakangan ini berita yang menayangkan keseharian public figure dengan gaya pergaulan bebasnya seliweran di media. Orang tak lagi malu mengumbar aibnya, yang lebih miris lagi tindakan itu seolah mendapat banyak dukungan dari khalayak. Apa yang salah dengan pola pendidikan generasi penerus bangsa ini? Adakah kesalahan itu berawal dari pola asuh keluarga, atau system pendidikan kita ada yang harus dibenahi? Apapun itu, sebagai ibu pastinya pengen memberikan yang terbaik demi kebaikan anak-anaknya baik sekarang atau di masa yang akan datang. Dimulai dari hal-hal kecil yang bisa dilakukan dari rumah, misalnya memberi perhatian, menyediakan waktu untuk saling berbagi cerita, jalan bareng meski cuma buat jajan cilok, atau diskusi ringan buat bahas isu seleb yang lagi hangat. Karena di waktu-waktu inilah...