Langsung ke konten utama

Curcol Emak

Buat pakbapak, pulang kerja gak usah mampir nongki-nongki atau kongkow-kongkow bareng temen. Mampir aja ke abang-abang yg jualan martabak, roti gembung, donat, es krim, coklat, segelas minuman dingin semisal Thai tea, trus buruan pulang. 

Sampe rumah jangan lupa cuci tangan, cuci kaki, mandi, ganti baju, sisiran yg rapi, peluk cium istri sepenuh hati. Tanyakan kabarnya hari ini. Pijit-pijit ringan bahu dan pelipisnya. Siapkan telinga baik-baik, jangan ditanggepin atau dibales kalau mulai ngomel-ngomel gak jelas. Oh iya, oleh-oleh yang tadi dibeli jangan lupa dikasih ke istri ya, bukan dimakan sendiri apalagi diinepin di jok kendaraan. 

Pasti pada gak lupa kan ya pakbapak, tahun ajaran baru sudah dimulai. Dan kerepotan tahun lalu berbeda dengan tahun ini. Gak ada rutinitas siapin bekal, siapin seragam dengan segala printilan nya, gak ada kerempongan antar jemput, dan gak ada drama bocah ogah ditinggal emaknya saat masuk ke sekolah baru. 

Kali ini beda, pakbapak. Belajar dari rumah, its mean, belajarnya bareng emaknya masing-masing di rumah. Disambi masak, jemur baju, cuci piring, mandiin bayi, nyuapin bayi, momong bayi, balas chat customer, jawab telepon teman, belanja sayur, kasih makan kucing dll. (Ada yg merasa segini banyak kerjaannya? Mohon bersabar, anda tidak sendirian.) 

Coba bayangin, keriweuhan seperti apa yang sudah dijalani istri seharian ini. 🤔
Tentu tak semudah yang dipikirkan pakbapak. So, jangan nambah level sutrisnya bukibuk meningkat gegara rumah masih berantakan, lauk yang terhidang cuma telur dadar, misalnya. Atau diem-diem ngeluh dalam hati melihat sang bidadari tak sempat mematut diri. 

Dah lah, cintai apa adanya. 
Jaga hati dan rasanya. 
Istri gak sempat masak, ya legowo aja nguplek bentar di dapur ngrebus mie instan. Bikin dua atau tiga porsi sekalian. Mana tau semangkuk mie instan buatan pakbapak bisa meredakan lelahnya. Menambah besar rasa cintanya. 

Rumah berantakan sementara ya, biarin aja. Nanti kalau anak-anak sudah pada tidur, beresin berdua sambil nostalgia. Duh, so sweet  ngebayanginnya. 

Susah senang sama-sama. 
Bukan gue susah, lu kudu lebih susah. 
Gue seneng, lu tetep harus susah. 

**
Bukan curhat, ya.. 
Cuma lagi pengen ngelemesin jari. Lama gak nulis, gak ikut event. 
Karena bberapa kondisi di atas tidak saya alami. 
Mohon dilewatkan saja kalau postingan ini berbau "sampah".🙏🏻

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ini yang Saya Lakukan Untuk Bisa Sembuh dari HNP (Saraf Kejepit)

Jika ada yang bertanya apa rasanya saat menderita saraf kejepit, tentu saya akan menjawab "sakit banget". Bahkan lebih sakit daripada ketika menjalani pemulihan pasca operasi caesar yang pernah saya alami dari ketika melahirkan tiga anak saya. Nyeri hebat disertai kaku otot dari pinggang yang menjalar hingga ke kaki itu benar-benar membuat saya tersiksa. Dirawat kurang lebih selama delapan hari, dan hampir selama delapan hari itu saya hanya bisa berbaring. Aktifitas yang memaksa untuk duduk, berdiri, dan berjalan adalah ketika makan dan pergi ke kamar mandi. Itupun saya lakukan sambil meringis menahan sakit. Bahkan hingga saya diperbolehkan pulang pun, sakitnya masih sangat terasa. Waktu itu saya benar-benar merasa seperti orang jompo , yang segala sesuatunya harus mengandalkan bantuan orang lain. Sebuah kenyataan pahit yang harus saya terima, bahwa saya yang terbiasa melakukan semua sendiri, kali ini harus bergantung kepada orang lain. Saya ibu dari tiga anak dengan rutinita...

Pengalaman Divonis HNP atau saraf kejepit

Hari berjalan seperti biasa ketika aku mengawali aktivitas harian. Mengantar kedua anakku bersekolah lalu berangkat kerja di sebuah jasa laundry milik seorang teman , bersama bungsuku yang berusia 4 tahunan. Hari senin adalah hari yang sibuk. Pekerjaan yang menumpuk di akhir pekan kemarin cukup menguras tenaga. Sinyal lelah yang diberikan oleh tubuh, tak kutanggapi dengan serius. Nyeri di pinggang kuabaikan begitu  saja dengan terus melakukan kegiatan mencuci, menjemur, mengeringkan cucian di mesin pengering. Di sela waktu menunggu mesin bekerja, aku melipat rapi pakaian yang sudah keluar dari mesin pengering menyemprotkan parfum serta mengemasnya dengan rapi ke dalam plastik laundry.  Rasa nyeri yang tak berkurang membuatku mengganti kegiatan mengangkat keranjang penuh berisi cucian setengah basah dengan mengambilnya beberapa untuk kujemur. Bolak-balik mengambilnya cukup melelahkan jika dibandingkan dengan mengangkatnya sekaligus. Tapi apa daya, pinggang yang kian nyeri tak b...
  Sekelumit  Cerita di Balik Persiapan PKKMB Maba FKIP UNMUL 2025   Menjadi ibu dari tiga anak perempuan dengan sulung yang beranjak dewasa itu nano-nano rasanya. Terlebih belakangan ini berita yang menayangkan keseharian public figure dengan gaya pergaulan bebasnya seliweran di media. Orang tak lagi malu mengumbar aibnya, yang lebih miris lagi tindakan itu seolah mendapat banyak dukungan dari khalayak. Apa yang salah dengan pola pendidikan generasi penerus bangsa ini? Adakah kesalahan itu berawal dari pola asuh keluarga, atau system pendidikan kita ada yang harus dibenahi? Apapun itu, sebagai ibu pastinya pengen memberikan yang terbaik demi kebaikan anak-anaknya baik sekarang atau di masa yang akan datang. Dimulai dari hal-hal kecil yang bisa dilakukan dari rumah, misalnya memberi perhatian, menyediakan waktu untuk saling berbagi cerita, jalan bareng meski cuma buat jajan cilok, atau diskusi ringan buat bahas isu seleb yang lagi hangat. Karena di waktu-waktu inilah...