Langsung ke konten utama

Jadi Emak Wajib Setrong

Bahwa keharusan setrong itu gak cuma berlaku untuk fisik aja. Momong anak telu, sambi ini itu, kepala tukar posisi sama kaki istilah lebaynya.

Karena ternyata hati emak kudu lebih setrong kalau pagi-pagi yang didengerin adalah suara jeritan atau tangisan bocah. Riuhnya suara mesin cuci, kucuran air keran beradu dengan pertengkaran tiga bocah tersebab hal sepele. Sangat amat sepele sekali. 

Setelah emak cooling down, sebenernya hanya karena miss komunikasi aja. Si adek yang jejeritan pengen nyusul emak di dapur tengah ditenangkan oleh si tengah, dengan cara yang salah menurut pendapat si sulung. Si sulung ini type yang kalau gemas sama adeknya, suka refleks nyubit di sembarang tempat. Bukan cubitan gemas sebenarnya, karena hasilnya bikin nangis. Entah ya, mana yang sesungguhnya benar. Kalau gak adeknya yang lebay, atau emang beneran sakit nyubitnya. 

Apa reaksi emak? 
Kalau lagi waras, ya diem aja nunggu pertunjukan selesai. Baru dipanggilin satu-satu minta penjelasan. 
Kalau gak waras? 
Ya ikut meramaikan sekalian, lah. Secara, banyak yang emak pikirin. Serasa nemu waktu dan tempat yang tepat untuk numpahin semua beban. 
Sedih amat ya, kasihan anak-anak yang masih polos itu 😥. 

Masalahnya, lebih sering mana waras dan nggak nya? Jangan bilang warasnya sehari, nggak warasnya enam hari. 😏

Salah satu cara untuk menjaga kewarasan dalam menghadapi mereka adalah, membayangkan jika tetiba rumah ini jadi sepi. Tak ada lagi suara rengekan, tawa bahagia, pun tangisan akibat diceramahin emak. 

Akan ada masanya mereka tak lagi nyaman merengek, memanggil-manggil ayah atau ibunya untuk minta tolong diambilkan mainan yang posisinya hanya sanggup dijangkau oleh tangan orang dewasa. 

Akan tiba waktunya mereka lebih asyik bertukar cerita dengan sahabatnya ketimbang curhat sama ibunya. Menunggu-nunggu akhir pekan hanya untuk bisa jalan bareng dengan teman se-ganknya. Bukan lagi dengan emak bapaknya. 

Baru membayangkan itu saja, hati ibuk sudah gerimis. Entah bagaimana rasanya saat ketiganya dibawa pergi oleh suaminya nanti. Betapa sepi dan kosongnya hati ibuk. 

Stay strong
Kuat hati juga body, buat ibu-ibu di seluruh penjuru tanah air. 

Ada yang baca sampai akhir, gak sih 🤭
Pede amat guweh, nulis panjang begini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ini yang Saya Lakukan Untuk Bisa Sembuh dari HNP (Saraf Kejepit)

Jika ada yang bertanya apa rasanya saat menderita saraf kejepit, tentu saya akan menjawab "sakit banget". Bahkan lebih sakit daripada ketika menjalani pemulihan pasca operasi caesar yang pernah saya alami dari ketika melahirkan tiga anak saya. Nyeri hebat disertai kaku otot dari pinggang yang menjalar hingga ke kaki itu benar-benar membuat saya tersiksa. Dirawat kurang lebih selama delapan hari, dan hampir selama delapan hari itu saya hanya bisa berbaring. Aktifitas yang memaksa untuk duduk, berdiri, dan berjalan adalah ketika makan dan pergi ke kamar mandi. Itupun saya lakukan sambil meringis menahan sakit. Bahkan hingga saya diperbolehkan pulang pun, sakitnya masih sangat terasa. Waktu itu saya benar-benar merasa seperti orang jompo , yang segala sesuatunya harus mengandalkan bantuan orang lain. Sebuah kenyataan pahit yang harus saya terima, bahwa saya yang terbiasa melakukan semua sendiri, kali ini harus bergantung kepada orang lain. Saya ibu dari tiga anak dengan rutinita...

Pengalaman Divonis HNP atau saraf kejepit

Hari berjalan seperti biasa ketika aku mengawali aktivitas harian. Mengantar kedua anakku bersekolah lalu berangkat kerja di sebuah jasa laundry milik seorang teman , bersama bungsuku yang berusia 4 tahunan. Hari senin adalah hari yang sibuk. Pekerjaan yang menumpuk di akhir pekan kemarin cukup menguras tenaga. Sinyal lelah yang diberikan oleh tubuh, tak kutanggapi dengan serius. Nyeri di pinggang kuabaikan begitu  saja dengan terus melakukan kegiatan mencuci, menjemur, mengeringkan cucian di mesin pengering. Di sela waktu menunggu mesin bekerja, aku melipat rapi pakaian yang sudah keluar dari mesin pengering menyemprotkan parfum serta mengemasnya dengan rapi ke dalam plastik laundry.  Rasa nyeri yang tak berkurang membuatku mengganti kegiatan mengangkat keranjang penuh berisi cucian setengah basah dengan mengambilnya beberapa untuk kujemur. Bolak-balik mengambilnya cukup melelahkan jika dibandingkan dengan mengangkatnya sekaligus. Tapi apa daya, pinggang yang kian nyeri tak b...
  Sekelumit  Cerita di Balik Persiapan PKKMB Maba FKIP UNMUL 2025   Menjadi ibu dari tiga anak perempuan dengan sulung yang beranjak dewasa itu nano-nano rasanya. Terlebih belakangan ini berita yang menayangkan keseharian public figure dengan gaya pergaulan bebasnya seliweran di media. Orang tak lagi malu mengumbar aibnya, yang lebih miris lagi tindakan itu seolah mendapat banyak dukungan dari khalayak. Apa yang salah dengan pola pendidikan generasi penerus bangsa ini? Adakah kesalahan itu berawal dari pola asuh keluarga, atau system pendidikan kita ada yang harus dibenahi? Apapun itu, sebagai ibu pastinya pengen memberikan yang terbaik demi kebaikan anak-anaknya baik sekarang atau di masa yang akan datang. Dimulai dari hal-hal kecil yang bisa dilakukan dari rumah, misalnya memberi perhatian, menyediakan waktu untuk saling berbagi cerita, jalan bareng meski cuma buat jajan cilok, atau diskusi ringan buat bahas isu seleb yang lagi hangat. Karena di waktu-waktu inilah...