Langsung ke konten utama

Postingan

  Sekelumit  Cerita di Balik Persiapan PKKMB Maba FKIP UNMUL 2025   Menjadi ibu dari tiga anak perempuan dengan sulung yang beranjak dewasa itu nano-nano rasanya. Terlebih belakangan ini berita yang menayangkan keseharian public figure dengan gaya pergaulan bebasnya seliweran di media. Orang tak lagi malu mengumbar aibnya, yang lebih miris lagi tindakan itu seolah mendapat banyak dukungan dari khalayak. Apa yang salah dengan pola pendidikan generasi penerus bangsa ini? Adakah kesalahan itu berawal dari pola asuh keluarga, atau system pendidikan kita ada yang harus dibenahi? Apapun itu, sebagai ibu pastinya pengen memberikan yang terbaik demi kebaikan anak-anaknya baik sekarang atau di masa yang akan datang. Dimulai dari hal-hal kecil yang bisa dilakukan dari rumah, misalnya memberi perhatian, menyediakan waktu untuk saling berbagi cerita, jalan bareng meski cuma buat jajan cilok, atau diskusi ringan buat bahas isu seleb yang lagi hangat. Karena di waktu-waktu inilah...
Postingan terbaru

Ini yang Saya Lakukan Untuk Bisa Sembuh dari HNP (Saraf Kejepit)

Jika ada yang bertanya apa rasanya saat menderita saraf kejepit, tentu saya akan menjawab "sakit banget". Bahkan lebih sakit daripada ketika menjalani pemulihan pasca operasi caesar yang pernah saya alami dari ketika melahirkan tiga anak saya. Nyeri hebat disertai kaku otot dari pinggang yang menjalar hingga ke kaki itu benar-benar membuat saya tersiksa. Dirawat kurang lebih selama delapan hari, dan hampir selama delapan hari itu saya hanya bisa berbaring. Aktifitas yang memaksa untuk duduk, berdiri, dan berjalan adalah ketika makan dan pergi ke kamar mandi. Itupun saya lakukan sambil meringis menahan sakit. Bahkan hingga saya diperbolehkan pulang pun, sakitnya masih sangat terasa. Waktu itu saya benar-benar merasa seperti orang jompo , yang segala sesuatunya harus mengandalkan bantuan orang lain. Sebuah kenyataan pahit yang harus saya terima, bahwa saya yang terbiasa melakukan semua sendiri, kali ini harus bergantung kepada orang lain. Saya ibu dari tiga anak dengan rutinita...

Pengalaman Divonis HNP atau saraf kejepit

Hari berjalan seperti biasa ketika aku mengawali aktivitas harian. Mengantar kedua anakku bersekolah lalu berangkat kerja di sebuah jasa laundry milik seorang teman , bersama bungsuku yang berusia 4 tahunan. Hari senin adalah hari yang sibuk. Pekerjaan yang menumpuk di akhir pekan kemarin cukup menguras tenaga. Sinyal lelah yang diberikan oleh tubuh, tak kutanggapi dengan serius. Nyeri di pinggang kuabaikan begitu  saja dengan terus melakukan kegiatan mencuci, menjemur, mengeringkan cucian di mesin pengering. Di sela waktu menunggu mesin bekerja, aku melipat rapi pakaian yang sudah keluar dari mesin pengering menyemprotkan parfum serta mengemasnya dengan rapi ke dalam plastik laundry.  Rasa nyeri yang tak berkurang membuatku mengganti kegiatan mengangkat keranjang penuh berisi cucian setengah basah dengan mengambilnya beberapa untuk kujemur. Bolak-balik mengambilnya cukup melelahkan jika dibandingkan dengan mengangkatnya sekaligus. Tapi apa daya, pinggang yang kian nyeri tak b...

Pengen Kerja Online Biar Cepet Kaya

Kesannya duniawi banget yak, kalau ngomongin cita-cita pengen jadi orang kaya. Seolah-olah hidup cuma buat ngejar materi, yang lain gak penting lagi.  Bukan, bukan gitu, sih sebenernya. Yaa, namanya manusia wajar dong kalau punya banyak keinginan. Asal masih di batas normal, gak melanggar aturan agama juga negara, ya.. Sah sah aja kan?  Jauh sebelum keinginan jadi orang kaya itu muncul, awalnya aku adalah orang yang terbiasa nrimo. Gak bisa beli ini itu, ya udah, deh. Terima nasib, legowo. Gak bisa ngejar cita-cita, langsung sadar diri. Tengok kanan kiri, lalu sadar. Buat maksain diri, kayaknya bakal banyak yang terdzolimi.  Lalu, mulailah aku mencari cara mengeluarkan unek-unek melalui tulisan. Kalau dulu suka nulis di buku diary. Lalu punya cita-cita bisa bikin blog. Biar lebih keren gitu. Gak mikir bahwa dengan memiliki blog, bisa memperoleh peluang yang menghasilkan rupiah.  Gimana gak menarik, hobi tersalurkan, beban di hati berkurang, sementara isi dompet bakal...

Jadi Emak Wajib Setrong

Bahwa keharusan setrong itu gak cuma berlaku untuk fisik aja. Momong anak telu, sambi ini itu, kepala tukar posisi sama kaki istilah lebaynya. Karena ternyata hati emak kudu lebih setrong kalau pagi-pagi yang didengerin adalah suara jeritan atau tangisan bocah. Riuhnya suara mesin cuci, kucuran air keran beradu dengan pertengkaran tiga bocah tersebab hal sepele. Sangat amat sepele sekali.  Setelah emak cooling down, sebenernya hanya karena miss komunikasi aja. Si adek yang jejeritan pengen nyusul emak di dapur tengah ditenangkan oleh si tengah, dengan cara yang salah menurut pendapat si sulung. Si sulung ini type yang kalau gemas sama adeknya, suka refleks nyubit di sembarang tempat. Bukan cubitan gemas sebenarnya, karena hasilnya bikin nangis. Entah ya, mana yang sesungguhnya benar. Kalau gak adeknya yang lebay, atau emang beneran sakit nyubitnya.  Apa reaksi emak?  Kalau lagi waras, ya diem aja nunggu pertunjukan selesai. Baru dipanggilin satu-satu minta penjelasan....

Cerpen Dealova

Oleh : Yuni Sajid Judul : Bukan Jodoh Isi      : 653 kata Sore hari menjelang senja, Alin merutuk dalam hati saat telinganya mendengar lagu Dealova diputar. Melalui pengeras suara di pusat perbelanjaan tempat ia pameran. Lagu itu mengalun merdu. Lirik lagu itu mengingatkannya tentang kenangan masa lalu. Tentang seseorang yang pernah hadir sesaat namun membawa arti amat mendalam dalam hidupnya. 'Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang Tanpa dirimu aku merasa hilang Dan sepi' Gadis itu hanyut dalam lamunannya untuk beberapa saat. Ketika sepasang mata bulatnya menangkap sosok lelaki yang belasan tahun lalu menghilang, hatinya berdegup kencang. Alin berusaha meyakinkan diri bahwa apa yang ia lihat adalah kekasih masa lalunya. Suasana mall senja itu lumayan sepi. Timbul niat dalam hati Alin untuk berlari mengejar lelaki itu, tapi diurungkannya. Meskipun dalam hati ingin sekali memastikan siapa yang dilihatnya saat ini, akhirnya gadis itu hanya mematung. Memandang dari kejauhan...

Cerpen Hijrah

Judul : Menata Asa di Bilik Bambu Oleh  : Yuni Sajid Di depan rumah berdinding bambu itu seorang wanita paruh baya memarkir mobil putihnya. Kaki jenjang beralaskan sepatu kets itu melenggang ke teras rumah tempat di mana seorang pria berbaju lusuh duduk sambil menikmati kopi hitamnya. "Apa benar ini rumahnya Vita?" tanya wanita itu tanpa basa-basi juga permisi. "Iya betul, Bu. Saya bapaknya Vita," jawab si pria. "Mana dia? Saya mau bicara," perintahnya sambil melepas kaca mata hitam yang ia pakai. Perempuan muda bernama Vita muncul dari dalam rumah saat mendengar namanya disebut.  "Saya Vita, Bu. Ada apa ya, Ibu mencari saya? Dan Ibu ini siapa?" tanya Vita penasaran. "Ooh, jadi kamu ya, perempuan kampung yang merebut suami saya?" Ujar wanita itu sambil menunjuk-nunjuk muka Vita. "Maksud Ibu, apa? Saya tidak mengerti?" tanya Pak Yoto--bapak Vita-- mengernyitkan dahi heran. "Anak Bapak telah merebut suami saya, dan lihat .....