Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2021

Pengen Kerja Online Biar Cepet Kaya

Kesannya duniawi banget yak, kalau ngomongin cita-cita pengen jadi orang kaya. Seolah-olah hidup cuma buat ngejar materi, yang lain gak penting lagi.  Bukan, bukan gitu, sih sebenernya. Yaa, namanya manusia wajar dong kalau punya banyak keinginan. Asal masih di batas normal, gak melanggar aturan agama juga negara, ya.. Sah sah aja kan?  Jauh sebelum keinginan jadi orang kaya itu muncul, awalnya aku adalah orang yang terbiasa nrimo. Gak bisa beli ini itu, ya udah, deh. Terima nasib, legowo. Gak bisa ngejar cita-cita, langsung sadar diri. Tengok kanan kiri, lalu sadar. Buat maksain diri, kayaknya bakal banyak yang terdzolimi.  Lalu, mulailah aku mencari cara mengeluarkan unek-unek melalui tulisan. Kalau dulu suka nulis di buku diary. Lalu punya cita-cita bisa bikin blog. Biar lebih keren gitu. Gak mikir bahwa dengan memiliki blog, bisa memperoleh peluang yang menghasilkan rupiah.  Gimana gak menarik, hobi tersalurkan, beban di hati berkurang, sementara isi dompet bakal...

Jadi Emak Wajib Setrong

Bahwa keharusan setrong itu gak cuma berlaku untuk fisik aja. Momong anak telu, sambi ini itu, kepala tukar posisi sama kaki istilah lebaynya. Karena ternyata hati emak kudu lebih setrong kalau pagi-pagi yang didengerin adalah suara jeritan atau tangisan bocah. Riuhnya suara mesin cuci, kucuran air keran beradu dengan pertengkaran tiga bocah tersebab hal sepele. Sangat amat sepele sekali.  Setelah emak cooling down, sebenernya hanya karena miss komunikasi aja. Si adek yang jejeritan pengen nyusul emak di dapur tengah ditenangkan oleh si tengah, dengan cara yang salah menurut pendapat si sulung. Si sulung ini type yang kalau gemas sama adeknya, suka refleks nyubit di sembarang tempat. Bukan cubitan gemas sebenarnya, karena hasilnya bikin nangis. Entah ya, mana yang sesungguhnya benar. Kalau gak adeknya yang lebay, atau emang beneran sakit nyubitnya.  Apa reaksi emak?  Kalau lagi waras, ya diem aja nunggu pertunjukan selesai. Baru dipanggilin satu-satu minta penjelasan....

Cerpen Dealova

Oleh : Yuni Sajid Judul : Bukan Jodoh Isi      : 653 kata Sore hari menjelang senja, Alin merutuk dalam hati saat telinganya mendengar lagu Dealova diputar. Melalui pengeras suara di pusat perbelanjaan tempat ia pameran. Lagu itu mengalun merdu. Lirik lagu itu mengingatkannya tentang kenangan masa lalu. Tentang seseorang yang pernah hadir sesaat namun membawa arti amat mendalam dalam hidupnya. 'Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang Tanpa dirimu aku merasa hilang Dan sepi' Gadis itu hanyut dalam lamunannya untuk beberapa saat. Ketika sepasang mata bulatnya menangkap sosok lelaki yang belasan tahun lalu menghilang, hatinya berdegup kencang. Alin berusaha meyakinkan diri bahwa apa yang ia lihat adalah kekasih masa lalunya. Suasana mall senja itu lumayan sepi. Timbul niat dalam hati Alin untuk berlari mengejar lelaki itu, tapi diurungkannya. Meskipun dalam hati ingin sekali memastikan siapa yang dilihatnya saat ini, akhirnya gadis itu hanya mematung. Memandang dari kejauhan...

Cerpen Hijrah

Judul : Menata Asa di Bilik Bambu Oleh  : Yuni Sajid Di depan rumah berdinding bambu itu seorang wanita paruh baya memarkir mobil putihnya. Kaki jenjang beralaskan sepatu kets itu melenggang ke teras rumah tempat di mana seorang pria berbaju lusuh duduk sambil menikmati kopi hitamnya. "Apa benar ini rumahnya Vita?" tanya wanita itu tanpa basa-basi juga permisi. "Iya betul, Bu. Saya bapaknya Vita," jawab si pria. "Mana dia? Saya mau bicara," perintahnya sambil melepas kaca mata hitam yang ia pakai. Perempuan muda bernama Vita muncul dari dalam rumah saat mendengar namanya disebut.  "Saya Vita, Bu. Ada apa ya, Ibu mencari saya? Dan Ibu ini siapa?" tanya Vita penasaran. "Ooh, jadi kamu ya, perempuan kampung yang merebut suami saya?" Ujar wanita itu sambil menunjuk-nunjuk muka Vita. "Maksud Ibu, apa? Saya tidak mengerti?" tanya Pak Yoto--bapak Vita-- mengernyitkan dahi heran. "Anak Bapak telah merebut suami saya, dan lihat .....

Cerpen Pertolongan Allah Itu Dekat

Judul : Prasangka Baik Kepada Allah Oleh   : Yuni Sajid Ke mana saja mereka saat kami terpuruk begini. Aku tak habis pikir, jangankan membantu meringankan beban, menanyakan kabar pun tak pernah. Padahal kami lah yang biasanya pertama kali mereka cari saat dalam kesulitan. Aku kecewa luar biasa. Berharap bisa saling membantu, bergantian mengulurkan tangan saat salah satu dalam kesulitan. Nyatanya tidak. Kami sendiri dan ditinggalkan. Sesak yang kurasakan. Tak pernah terduga rupanya Allah turunkan bantuan-NYA dari arah lain. Bukan dari orang-orang yang pernah sangat kuharapkan akan terus membersamai. *** Prasangka Baik Kepada Allah  Hampir setahun suamiku kehilangan pekerjaan. Tabungan yang jumlahnya tak seberapa itu pun nyaris habis untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Hasil kerjaku memang sedikit bisa untuk makan sehari-hari.  Akan tetapi bagaimana dengan biaya sekolah anak-anakku, sewa rumah yang harus dibayarkan tiap bulan, belum lagi persiapan melahirkan anak ke...

Cerpen Mini Fabel

 Kedasih si Burung Licik Nama : Yuni sajid Di pucuk rumpun bambu yang tinggi, tinggallah seekor burung Kipasan. Burung Kipasan betina sedang mengerami telurnya dengan penuh kasih sayang. Dijaganya dengan baik telur-telur itu di dalam sarang. Ia hanya sesekali meninggalkan sarangnya saat hendak mencari makanan saja. Sementara itu, seekor burung Kedasih sedang mengintai dari kejauhan. Ia menunggu burung Kipasan pergi meninggalkan sarang. Saat melihat sarang itu ditinggalkan induknya, lalu diam-diam ia menitipkan telurnya di sana. "Kipasan tidak akan tahu jika aku menitipkan dua telur di sini. Agar tak curiga, sebaiknya dua telur miliknya aku singkirkan dari sarang ini," gumam si Kedasih licik sambil menendang dua butir telur milik Kipasan hingga terjatuh. "Nah, sudah beres. Kini aku tak perlu khawatir akan keselamatan telurku. Pasti Kipasan akan menjaga dan merawat anak-anakku dengan baik."  Setelah memastikan telur-telurnya aman, Kedasih pun pergi meninggalkan sarang...

Curcol Emak

Buat pakbapak, pulang kerja gak usah mampir nongki-nongki atau kongkow-kongkow bareng temen. Mampir aja ke abang-abang yg jualan martabak, roti gembung, donat, es krim, coklat, segelas minuman dingin semisal Thai tea, trus buruan pulang.  Sampe rumah jangan lupa cuci tangan, cuci kaki, mandi, ganti baju, sisiran yg rapi, peluk cium istri sepenuh hati. Tanyakan kabarnya hari ini. Pijit-pijit ringan bahu dan pelipisnya. Siapkan telinga baik-baik, jangan ditanggepin atau dibales kalau mulai ngomel-ngomel gak jelas. Oh iya, oleh-oleh yang tadi dibeli jangan lupa dikasih ke istri ya, bukan dimakan sendiri apalagi diinepin di jok kendaraan.  Pasti pada gak lupa kan ya pakbapak, tahun ajaran baru sudah dimulai. Dan kerepotan tahun lalu berbeda dengan tahun ini. Gak ada rutinitas siapin bekal, siapin seragam dengan segala printilan nya, gak ada kerempongan antar jemput, dan gak ada drama bocah ogah ditinggal emaknya saat masuk ke sekolah baru.  Kali ini beda, pakbapak. Belajar da...

Cerpen Catatan Masa SMA

#masaSMA Masa SMA, aku menyebutnya sebagai "zaman" perjuangan. Jarak sejauh 11 km dari rumah ke sekolah kutempuh dengan sepeda angin. Sendirian tanpa teman. Karena teman yang lain bersekolah di SMA yang berbeda denganku. Aku memilih sekolah negeri karena biayanya lebih terjangkau dibandingkan dengan sekolah swasta. Juga karena rata-rata mereka mengendarai sepeda motor kala itu. Teman-temanku berasal dari kalangan ekonomi kelas menengah. Berangkat jam 06.00 dari rumah dan tiba di sekolah paling lambat jam 07.10. Keluar dari kelas jam 14.00 dan tiba di rumah paling lambat jam 15.30 jika hari tidak sedang turun hujan. Melewati tiga kecamatan dari area persawahan hingga pusat "kota" menjadikan perjalanan pulang pergi ke sekolah tak terlalu menjemukan. Bukan saja jarak sekolah yang teramat jauh bagiku, kondisi ekonomi keluarga ketika itu sedang di titik terendah. Sepeninggal bapak dua tahun sebelumnya, emak terlilit hutang kepada rentenir hingga rumah kami satu-satunya h...

Cerpen Mini Tentang Cita-cita

#cita-cita "Hanya orang kaya yang boleh punya cita-cita ya, Win? Orang sepertiku hanya punya mimpi," ucap Nala kepada sahabatnya. "Kamu tak boleh begitu, La. Cita-cita itu hak semua orang. Semua orang yang punya tujuan hidup dan punya semangat hidup tak boleh berkata seperti itu," kata Winda memberi semangat. "Lihatlah aku, Win. Entah bagaimana kalau setelah lulus ini kita berbeda sekolah," jawab Nala sambil menunduk lesu. Nala sadar, selama ini jika bukan karena Winda, mungkin dia sudah putus sekolah. Buku-buku pelajaran semua dipinjamkan oleh Winda. Begitupun sepatu dan seragam. Winda punya banyak, dan sering dibelikan yang baru, sementara yang lama masih layak pakai. Pergi dan pulang sekolah, dua sahabat ini selalu bersama. Naik sepeda milik Winda. Bergantian membonceng. Sungguh manis persahabatan mereka, pantas jika Nala begitu sedih karena sebentar lagi mereka akan lulus. Dan besar kemungkinan mereka tak lagi satu sekolah. Orangtua Winda tentu memilih...

Puisi Tentang Sahabat

#lantung SAHABAT Berpayung awan biru muda Nampak wajahmu bermuram durja Duduk sendiri bertopang dagu Apa gerangan mengusik hatimu Teduh naungan pohon kersen di atas kepala Jadi saksi bisu ceritamu siang itu Tentang masa depan yang kelabu Kau bilang ingin akhiri segala Tidakkah kau ingati betapa banyak nikmat hidup ini Tentang indahnya alam tempat kita berdiri Genggam tanganku lebih erat mulai kini Melihatmu nelangsa aku tak sudi Sahabat, Bukit menghijau di bawah sana Biarkan ia mewarnai cerita Tentang kita berdua yang merajut asa Smd, 19032019 15.12

Puisi Penantian

#merona PENANTIAN Pria bermata elang Di mana engkau sekarang Tak inginkah kembali pulang Memunguti serpihan hati terbuang Belasan purnama berlalu Senyummu senantiasa kurindu Pada bintang kutanya ke mana pergimu Jawabnya selalu sama, bisu Kau yang membuat wajahku merona Kini tinggalkanku sendiri merana Jika telah lelah kakimu melangkah Pulanglah  Smd, 18032019 21.15

Cerpen Mini

#Euforia Wijaya Kabar kelulusan Wijaya disambut suka cita oleh ibunya, Yu Lasmi. Perempuan desa berusia senja yang menjalani separuh usianya dengan menjanda. Semenjak pria yang memberinya dua anak itu berkhianat, ia memutuskan untuk hidup sendiri. Merawat dan membesarkan Wijaya dan Yani dengan tangannya sendiri. Semua tetangga kanan-kiri, teman di kelompok yasinan dan arisan ia beritahu. Wijaya sekarang jadi orang berpendidikan, punya titel, bergelar dan berseragam. Anak lelaki semata wayang kini sudah mengangkat derajat ibunya. Tak akan ada lagi tatapan mata meremehkan saat ia pergi rewang ke tetangga yang sedang punya hajatan. Dulunya ia kerap dinilai hanya numpang cari makan enak. Pulang rewang membawa berbungkus-bungkus makanan untuk Wijaya dan Yani kecil. Besar harapan Yu Lasmi, setelah ini Wijaya akan bekerja dan berpenghasilan tinggi. Punya rumah mewah seperti milik pak lurah. Beli mobil bagus seperti kepunyaan juragan Agus. Ia tak lagi malu ikut yasinan ibu-ibu karena hanya mem...

Puisi Bromo

#arunika BROMO Lautan pasir mengungkap tabir Keindahan tiada tara kusambut takbir Arunika Penanjakan Berkumpul insan Memburu keindahan semesta Bersujud tafakur kepada pencipta Pojok kenangan, 03042019

Cerpen Mini Harta Bukan Segalanya

Harta Bukan Segalanya "Abang sudah pikirkan betul-betul 'kah, keputusan Abang kali ini?" tanyaku sambil memasukkan beberapa baju ke dalam koper. "Apalagi yang kau ragukan, May. Sedangkan baju-baju abang pun sudah kau siapkan." jawabnya sambil sibuk mengetik layar di gawainya entah untuk siapa. "Tapi kali ini berbeda, Bang. Paling cepat tiga bulan abang baru bisa pulang, menemui istri dan anak-anak,"  "Sanggupkah, Abang, membeli kebersamaan keluarga kecil ini dengan gaji belasan juta yang abang kejar itu?" kuungkapkan isi hatiku bermaksud mengiba. "Anak-anak butuh masa depan yang cerah, May. Kita butuh rumah yang lebih layak, kendaraan yang bisa membawa kita pulang kampung lebih nyaman. Sudahlah, kau jaga baik-baik anak kita di rumah dan jangan lupa selalu doakan Abang, ya," jawabnya mantap. Aku menjawab dengan anggukan, dengan air menggenang di pelupuk mata, dengan nyeri yang tak terperi. Kucium penuh takzim tangan suamiku, diciumny...

Puisi Manusia Bodoh

CINTA TAK SEBODOH INI Untuk kesekian kali Kumohon padamu tanyakan pada hati Benarkah selama ini cintalah yang membuatmu bertahan Tentang sakit dan kecewa juga kesedihan Pantaskah cinta kau agungkan Jika membalut lukamu pun ia enggan lakukan Dalam tangis air mata darahmu Kau sebut itu setia tanpa jemu Kubilang setia tak harus demikian bodoh Menopang yang lain sementara kau sendiri roboh Cinta hanya layak diterima seorang yang punya hati Bukan ia yang hadir untuk terus menyakiti Mahakam, 28 April 2019

Puisi Ujian Kesabaran

SAMUDRA KEHIDUPAN Badai menghampiri tiada henti Bidukku terhempas nyaris kandas Tiada sesiapa peduli Segala budi beterbangan serupa kapas Nakhodaku hilang arah Terombang-ambing di laut resah Kepada-Mu aku berserah Mohon perlindungan dari segala gundah Dermaga masihlah jauh Belum waktunya kita berlabuh Gelombang ujian bergantian datang Tenggelam di laut bimbang Hanya satu yang jadi pedoman Ia penunjuk jalan keselamatan Berat maupun ringan tetap jalankan Ridho-Nya semata jadi tujuan Smd, 25032019 Setor ummi Sofia Hidayati

Puisi Kehilangan

AKHIR SEBUAH PENANTIAN Terpana netraku menatap angka Seakan tak percaya namun nyata Benarkah yang sedang kualami Ataukah hanya sekedar mimpi Tiada kusangka akhirnya dia pergi Meninggalkan rona bahagia di pipi Hati berlonjak riang Kejutan ini membuat hati teramat senang Terima kasih telah meninggalkanku Bahkan saat aku telah lelah mengusirmu Gamis semasa gadis telah memanggil Lingkar perut akhirnya mengecil  Pojok gaje, 04042019

Cerpen Kehilangan

Terlambat  Gadis kecil itu tertawa riang menampakkan dua gigi depannya yang telah tanggal. Tangan kecilnya melingkar di leher pria yang ia panggil bapak. Wajah pria berkumis lebat itu pun sama bahagianya.  "Terima kasih, Bapak. Bonekanya cantik." Berulang kali bibirnya mendarat di wajah si pria.  "Sama cantiknya dengan Dita," puji Parmin sambil mencubit hidung mungil gadis ciliknya. "Besok antar Dita ke tempat ibu, ya. Dita mau kasih lihat boneka baru, biar ibu senang," pinta  gadis kecil itu dengan raut wajah memohon. Bukan sebuah permintaan yang sulit untuk dikabulkan, tapi hati Parmin mendadak terasa nyeri. "Bapak kenapa diam? Mau ya, Pak?" Dita mengulang lagi permintaannya. "Iya, nanti Bapak antar," jawab Parmin sedikit tergagap. *** "Ibu, Dita datang bawa bunga dan boneka baru yang cantik."  Tak menunggu respon dari lawan bicaranya, gadis kecil itu terus saja bercerita. Tentang boneka baru hadiah dari sang bapak. Juga mas...

Cerpen Ibu Mertua

Ibu Mertua Sehari sebelum berangkat mudik ke kampung mertua, sengaja aku siapkan beberapa kue olahan tanganku sendiri. Buah tangan istimewa untuk orang yang istimewa pula.  Bolu pandan dan bolu marmer kupikir pilihan tepat, mengingat ibu mertua tak terlalu suka rasa yang aneh-aneh seperti keju, misalnya. Tekstur bolu yang lembut memudahkan beliau untuk mengunyah, karena beberapa giginya memang sudah tanggal -begitu pikirku-. Tiba di stasiun, aku mencari andong yang terparkir agak jauh dari pintu keluar. Seorang kakek berusia lanjut nampak menunggu penumpang sambil menyandarkan tubuhnya santai. Nyaris terkantuk-kantuk dengan mata hampir terpejam. Kupanggil pelan si kakek bermaksud agar tidak mengagetkan beliau. "Ke Sidomulyo ya, Pak," ucapku sambil menyebutkan sebuah desa. "Oh iya, Bu." Kakek kusir memacu kudanya pelan setelah aku naik dan membawa serta barang-batangku. Sepanjang perjalanan sesekali kami terlibat obrolan ringan. Mendekati pasar Mukti, aku berpesan ke...